Detail Berita

Hukum & Politik

KPI Jember Nilai Pengaburan Sejarah Mei 1998 Hambat Keadilan bagi Korban

Pewarta : Evelyne

25 Mei 2026

15:12

Sekretaris KPI Cabang Jember Dewi Eliana bersama Pengurus dan Anggota Nobar Film Mei 98 di sekretariat setempat (foto : Evelyne)

JEMBER, enewsindo.co.id - Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Jember menilai penyangkalan terhadap kekerasan dalam Tragedi Mei 1998 sebagai bentuk kekerasan simbolik baru terhadap korban. 

Pandangan itu disampaikan dalam kegiatan “Nobar Film dan Nulis Surat untuk Mei ’98” yang digelar di Sekretariat organisasi tersebut yang berada di Jalan S.Suparman Kecamatan Sumbersari pada Minggu (25/5/2026).

Kegiatan itu diikuti organisasi perangkat daerah, mahasiswa, komunitas perempuan, pegiat lintas iman dan budaya, serta masyarakat umum. Selain pemutaran film, peserta diajak menulis surat reflektif untuk korban Tragedi Mei 1998, keluarga korban, dan generasi mendatang.

Sekretaris KPI Jember Dewi Eliana mengatakan Reformasi 1998 tidak dapat dipisahkan dari keterlibatan perempuan Indonesia. Menurut dia, perempuan bukan hanya menjadi korban dalam sejarah, tetapi juga bagian dari aktor perubahan politik pada masa reformasi.

“Perempuan hadir bukan hanya sebagai korban sejarah, tetapi juga pelaku perubahan sejarah." Kata Dewi.

Karena itu, tambah Dewi, upaya menghapus atau menyangkal kekerasan terhadap perempuan dalam Mei 1998 adalah bentuk pengingkaran terhadap pengalaman korban dan perjuangan perempuan Indonesia.

KPI Jember menyebut berbagai bentuk relativisasi dan penyederhanaan Tragedi Mei 1998 sebagai “kerusuhan biasa” berpotensi menghambat proses pemulihan korban dan pendidikan publik terkait pelanggaran hak asasi manusia.

Menurut organisasi itu, kekerasan seksual dalam Tragedi Mei 1998 telah tercatat dalam temuan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) dan menjadi salah satu latar pembentukan Komnas Perempuan. 

“Ketika pengalaman korban disangkal, ketika sejarah dipelintir, maka korban dipaksa mengalami luka itu berulang kali. Demokrasi tidak akan sehat jika dibangun di atas amnesia kolektif,” ujar Dewi.

KPI Jember juga menyoroti tantangan generasi muda dalam menghadapi arus informasi dan disinformasi mengenai sejarah pelanggaran HAM masa lalu. Karena itu, mereka menilai ruang budaya seperti pemutaran film, diskusi publik, dan literasi sejarah penting untuk menjaga kesadaran kritis masyarakat.

Dalam kegiatan tersebut, KPI Jember turut mengaitkan refleksi tentang Mei 1998 dengan persoalan perempuan saat ini, seperti kekerasan terhadap perempuan dan anak, perkawinan usia anak, serta keterbatasan ruang aman bagi kelompok rentan.

Organisasi itu mengajak masyarakat untuk tetap kritis terhadap berbagai bentuk penghapusan ingatan kolektif agar tragedi serupa tidak terulang pada masa mendatang. (*)

Tags : #TragediMei1998 #KPIJember #Reformasi98 #TolakLupa #HAM #PerempuanMelawan #Jember #KomnasPerempuan #enewsindo

Ikuti Kami :

Komentar