Detail Berita

Ekonomi & Bisnis

Perajin Batik Banyuwangi Didorong Go Digital, OJK Perkuat Akses Keuangan UMKM

Pewarta : Hakim Said

07 November 2026

18:22

Salah seorang pegawai OJK mencoba Kain Batik Banyuwangi (foto : Hakim Said)


BANYUWANGI, enewsindo.co.id - Pelaku usaha batik di Banyuwangi didorong memanfaatkan layanan keuangan digital untuk memperluas pasar dan mengembangkan usahanya. Upaya tersebut menjadi salah satu fokus kolaborasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam penyelenggaraan Banyuwangi Batik Festival (BBF) 2026.

Melalui kegiatan Bulan Inklusi Keuangan (BIK), OJK berupaya mendekatkan akses layanan keuangan kepada perajin dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Langkah ini diharapkan dapat memperkuat usaha batik yang selama ini menjadi bagian dari ekonomi kreatif Banyuwangi.

Kepala OJK Jember Aris Budiman mengatakan, pengembangan industri batik membutuhkan dukungan banyak pihak. Selain perajin, pemerintah daerah, lembaga jasa keuangan, dan masyarakat juga memiliki peran dalam menjaga keberlangsungan industri tersebut.

"Proses pembuatan batik membutuhkan kain, pewarna, dan berbagai bahan pendukung. Begitu pula upaya meningkatkan literasi keuangan, membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai OJK, Bank Indonesia, lembaga jasa keuangan hingga pemerintah daerah," ujar Aris.

Menurutnya, kolaborasi BIK dengan BBF yang telah berlangsung dua kali diharapkan terus berlanjut. Dengan demikian, manfaat kegiatan tidak hanya dirasakan selama festival, tetapi juga berdampak pada perkembangan usaha perajin setelah acara selesai.

Sementara itu, Banyuwangi Batik Festival 2026 berlangsung di Gedung Seni Budaya (Gesibu) Blambangan pada 6-8 November 2026. Festival yang memasuki penyelenggaraan ke-14 sejak 2013 ini mengangkat motif Sabuk Mangir Latar Ukel.

Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono mengatakan, BBF menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan pelestarian budaya dengan penguatan ekonomi masyarakat.

Kegiatan tersebut melibatkan perajin, pedagang batik, desainer fesyen lokal, hingga pelaku UMKM. Keterlibatan mereka dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan ekosistem usaha batik daerah.

"Di satu sisi kita merayakan warisan budaya, di sisi lain kita memperkuat ekonomi para perajin dan pelaku UMKM yang menghidupkan budaya," kata Mujiono saat menghadiri pembukaan BBF, Jumat (6/11/2026).

Dia juga mendorong para pelaku usaha batik terus berinovasi, baik dalam pengembangan motif, desain maupun pemasaran. Pemanfaatan layanan keuangan digital dinilai dapat menjadi salah satu cara memperluas jangkauan pasar.

"Termasuk memanfaatkan layanan keuangan digital untuk memperluas jangkauan pasar batik Banyuwangi," imbuhnya.

Dalam penyelenggaraan tahun ini, motif Sabuk Mangir Latar Ukel menjadi salah satu daya tarik utama. Motif tersebut merepresentasikan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan leluhur Banyuwangi.

Sebelumnya, BBF telah memperkenalkan berbagai motif khas daerah, seperti Gajah Oling, Kangkung Setingkes, Kopi Pecah, Blarak Sempal, Sekar Jagad Blambangan, Cacing Sembrug, hingga Wader Kesit.

Selain peragaan busana batik, BBF dan BIK 2026 juga menghadirkan Financial Expo dan Bazar UMKM, pemilihan Duta Lembaga Jasa Keuangan (LJK), talk show literasi keuangan, kompetisi kreasi budaya dan desain batik, kompetisi tandan Cavendish berkualitas, hingga BIK Run.

Salah satu pelaku usaha batik peserta festival, Eca, mengatakan pengenalan motif baru setiap tahun menjadi kesempatan untuk memperluas pengetahuan masyarakat mengenai kekayaan batik Banyuwangi.

"Setiap tahun selalu ada motif baru yang diangkat. Harapannya, kecintaan masyarakat Banyuwangi terhadap batik semakin tumbuh dan batik lokal semakin dikenal," ungkapnya.

Tags : #BatikBanyuwangi #OJKBanyuwangi #BeritaBatikBanyuwangi #enewsindoBanyuwangi

Ikuti Kami :

Komentar