Detail Berita
Terjebak,Terpisah tetapi Tidak Terputus, Kisah Budi dari Parsikaman
Pewarta : Evelyne
30 November 2025
15:18
Warga dan mobil terjebak di area longsor di desa Parsikaman Kecamatan Adian Koting, pada 30 November 2025 (Foto : Istimewa)
TAPANULI UTARA, enewsindo.co.id - Di sebuah desa yang terisolasi oleh longsor dan dikelilingi sunyi yang mencekam, secercah harapan datang dari pesan singkat seorang jurnalis.
Di tengah keputusasaan yang menyelimuti Desa Parsikaman Kecamatan Adian Koting, kabar bahwa jurnalis Budi Cahyono dan keluarganya selamat menjadi titik terang pertama di hari-hari penuh kecemasan itu.
Namun, di balik kabar keselamatan tersebut, Budi membawa cerita lain yang jauh lebih gelap potret bencana yang skalanya jauh melampaui dugaan banyak orang.
Dalam pesan WhatsApp yang dikirimkan Minggu (30/11/2025) setelah menempuh perjalanan panjang, Budi menggambarkan betapa masifnya kerusakan akibat longsor yang melanda jalur Sibolga - Tarutung.
Ada 98 titik longsor yang menutup akses utama itu, menjadikan wilayah tersebut seperti terputus dari dunia luar.
Bahkan dari Parsikaman menuju Tarutung, jalur yang biasanya dapat ditempuh tanpa hambatan besar, kini berubah menjadi lorong maut dengan 48 titik longsor yang saling berdekatan.
"Tim evakuasi belum dapat menjangkau daerah-daerah yang terdampak," tulisnya. Kalimat singkat yang memotong harapan, sekaligus menegaskan bahwa bantuan masih jauh dari jangkauan.
Untuk bisa mengabarkan keadaannya, Budi dan keluarganya harus berjuang menempuh 35 kilometer perjalanan melewati hutan, medan terjal, dan jalanan yang hancur.
Perjalanan itu bukan sekadar langkah fisik, tetapi juga perjalanan emosional antara hidup dan harapan, antara ketakutan dan tekad.
Di setiap meter yang dilewati, mereka menyaksikan sisa-sisa kekacauan pohon tumbang, rumah runtuh, dan jalan yang terbelah.
Namun Budi terus melangkah bukan hanya demi dirinya, tetapi demi memastikan bahwa kabar tentang Parsikaman tidak hilang begitu saja di balik tumpukan tanah longsor.
Meski berhasil menyampaikan keselamatannya, pesan Budi membawa beban berat yang tak bisa disembunyikan. Adik kandungnya masih tertinggal di lokasi longsor, nasibnya belum pasti.
Kekhawatiran lain datang dari rekannya sesama jurnalis, Lukman beserta Istri dan keluarganya yang sedang dalam perjalanan menuju Aceh Tenggara, hingga kini belum diketahui keberadaannya.
"Istri pak Lukman belum ada kabar, Mohon doanya," tulis Budi, menyelipkan kepedihan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Selain cerita pribadi, Budi juga mengungkap fakta pahit dari lokasi bencana. Sedikitnya 74 warga yang melintasi jalur Sibolga–Tarutung ditemukan tewas.
Beberapa di antaranya adalah tiga sopir truk yang ditemukan masih berada di dalam kendaraan mereka, tertimbun material longsor yang begitu tebal hingga tak sempat menyelamatkan diri.
Angka itu bisa saja bertambah, mengingat akses menuju titik-titik longsor masih tertutup dan banyak wilayah belum tersentuh tim penyelamat.
Di akhir pesannya, Budi menuliskan kalimat pendek yang terasa seperti napas terakhir dari kekuatan yang berusaha ia pertahankan. "Semoga mereka yang meninggal diampuni dosanya dan kita semua dilindungi." ucapnya.
Kalimat itu tak hanya berisi doa, tetapi juga keyakinan bahwa meski tertutup tanah dan reruntuhan, harapan tak boleh ikut tertimbun.
Di Parsikaman, bencana bukan hanya tentang tanah yang bergeser atau jalan yang runtuh. Ini adalah kisah tentang manusia, kehilangan, ketabahan, dan upaya menyambung kembali kehidupan yang terputus.
Komentar
Berita Terbaru
Hujan Deras, Pasar Cerme Bondowoso Terendam Banjir
12 Januari 2026
07:28
Reog dan Sisingaan Hidupkan Malam Perayaan di Bandar Klippa
11 Januari 2026
16:38
Momen Haru Perpisahan Kapolresta Banyuwangi, Kombes Pol Rama, Terima Kasih Masyarakat Osing
10 Januari 2026
22:59
Anisatul Hamidah Lulus Doktor Hukum Unej, Disertasi Fakir Miskin Raih Cumlaude
10 Januari 2026
22:45
Tokoh Pemuda Bondowoso Habib Alwi Hadiri Sertijab Pangdivif 2 Kostrad, Ucapkan Selamat dan Apresiasi
10 Januari 2026
17:04
Berita Terpopuler