Detail Berita
Gus Moch Klaten: Kepemimpinan PBNU Gagal Jaga Marwah, Perlu Segera Diganti
Pewarta : Evelyn
23 September 2025
18:02
KH Mochammad Fatal pengasuh Ponpes Alpansa Klaten pada 23 September 2025 (Foto : Istimewa)
KLATEN, enewsindo.co.id- Kemelut yang melanda Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kini menuai sorotan dari berbagai kalangan. Salah satunya datang dari KH Mochammad Fathal, putra ulama kharismatik KH Moeslim Rifa’i Imampuro atau Mbah Liem Klaten.
Gus Moch, begitu ia akrab disapa, menyatakan keprihatinannya atas sejumlah persoalan yang menyeret organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut. Pandangannya, kepemimpinan PBNU saat ini gagal menjaga marwah jam’iyyah. Ia juga membandingkan kondisi sekarang dengan masa kepemimpinan tokoh-tokoh besar NU seperti KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Mbah Liem.
“Gus Dur dan Mbah Liem bisa diteladani oleh petinggi PBNU. Keduanya berjuang demi kemaslahatan umat, zuhud, sederhana, dan jauh dari sikap pragmatis,” kata Gus Mochammad Fatal di Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti (Alpansa) Klaten.
Ia mengenang bagaimana Gus Dur, baik saat memimpin PBNU maupun ketika menjabat Presiden ke - 4 RI, kerap didampingi Mbah Liem. Keduanya disebut berani mengambil langkah-langkah besar demi menyelamatkan bangsa dan agama.
“Teladan Gus Dur luar biasa, berkorban demi keutuhan negara dan menanamkan fondasi kesatuan bangsa. Mbah Liem pun demikian. Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti yang beliau dirikan adalah bukti komitmen nasionalisme ulama pesantren,” ujarnya.
Kontras dengan teladan itu, Gus Moch menyoroti, perilaku sebagian petinggi PBNU yang dinilainya pragmatis. Ia menyebut, keterlibatan dalam bisnis tambang, perebutan kursi komisaris BUMN, serta dugaan korupsi tambahan kuota haji 2023–2024 telah meruntuhkan kewibawaan organisasi.
“Apa yang mereka lakukan bisa membahayakan NKRI dan NU. Itu jelas bertentangan dengan semangat perjuangan para pendahulu,” tegasnya.
Lebih jauh, Gus Moch juga menuding adanya penyimpangan serius ketika PBNU membuka ruang kerja sama dengan pihak-pihak yang terkait dengan zionisme Israel. Menurutnya, langkah itu tidak hanya melukai hati umat, tetapi juga berpotensi mengancam masa depan bangsa. Sebagai penerus pengasuhan Pesantren Alpansa, Gus Moch menyerukan agar PBNU segera melakukan muhasabah (introspeksi). Ia menekankan pentingnya menyerahkan sepenuhnya dugaan kasus korupsi haji kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
“Kemelut penyusupan zionisme, dugaan korupsi haji, dan perebutan urusan tambang menunjukkan kegagalan kepemimpinan PBNU. Maka kepemimpinan saat ini tidak perlu dilanjutkan, karena dampaknya sistemik,” katanya.
Gus Moch juga menilai, jika para petinggi PBNU enggan mengundurkan diri secara sukarela, maka percepatan pergantian kepemimpinan menjadi jalan terbaik. “Saya setuju mereka lengser. Kalau tidak, segera percepat pergantian kepemimpinan di PBNU,” ujarnya menegaskan. (Sumber Rilis)
Komentar
Berita Terbaru
Hukum & Politik
Gibran Apresiasi Desain Pasar Banyuwangi, Minta Penyempurnaan Sebelum Beroperasi
11 Juli 2026
06:49
Hukum & Politik
Perhutani dan Pemkab Bondowoso Serahkan PKS Agroforestry Kopi kepada 141 Petani Sumberwringin
10 Juli 2026
09:43
Hukum & Politik
Bupati Nias Selatan Lantik 64 Pejabat, Tekankan Kerja Cepat dan Bersih dari KKN
10 Juli 2026
06:55
Hukum & Politik
Polres Sampang Amankan 12 Terduga Pelaku Dugaan Kekerasan Seksual terhadap Anak, 15 Orang Masih Diburu
9 Juli 2026
16:47
Ekonomi & Bisnis
PTPN I Perkuat Kemitraan Lahan Tembakau di Jember, Dorong Kesejahteraan Petani
9 Juli 2026
16:40