Detail Berita

Pendidikan & Teknologi

Lima Hari Sekolah di Kabupaten Kediri Masih Dikaji, Nasib Jam Mengaji Jadi Perhatian

Pewarta : Siddik

29 Oktober 2026

14:00

Mokhamat Muhsin Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri (foto : Siddik)

KABUPATEN KEDIRI, enewsindo.co.id - Wacana penerapan lima hari sekolah di Kabupaten Kediri belum menemui kepastian. Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Kediri masih mengkaji sejumlah opsi sebelum kebijakan tersebut diputuskan.

Kepala Disdik Kabupaten Kediri Mokhamat Muhsin menyebutkan, ada tiga alternatif yang akan diajukan kepada pimpinan daerah. Yakni, membatalkan kebijakan lima hari sekolah, menerapkannya secara langsung, atau melakukan uji coba terlebih dahulu.

“Misalnya dari kajian, dari pendapat publik itu bisa diajukan alternatif pertama kegiatan lima hari sekolah tidak jadi, atau langsung dilaksanakan, atau melalui uji coba,” jelas Muhsin, Kamis 29 Oktober 2026.

Menurut dia, seluruh opsi tersebut masih terbuka. Disdik telah menghimpun aspirasi masyarakat dan melakukan survei terhadap siswa serta orang tua. Hasil kajian dan survei itu nantinya dilaporkan kepada pimpinan daerah sebagai bahan pertimbangan sebelum keputusan diambil.

“Jadi ada tiga alternatif itu yang nanti akan kita sampaikan. Kajian dan pendapat publik kemarin kita lampirkan. Termasuk survei kepada anak-anak, ke orang tua hasilnya juga sudah. Nanti kita laporkan ke pimpinan,” terangnya.

Jika uji coba dipilih, penerapannya tidak otomatis berlaku di seluruh sekolah. Disdik akan mempertimbangkan kesiapan masing-masing satuan pendidikan untuk menentukan sekolah yang dinilai layak menjadi lokasi uji coba.

Skema tersebut diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi untuk mengukur dampak perubahan jadwal belajar sebelum kebijakan diterapkan lebih luas.

Namun, persoalan jam sekolah bukan satu-satunya pertimbangan. Disdik juga memberi perhatian terhadap kekhawatiran sejumlah organisasi masyarakat (ormas) mengenai waktu siswa mengikuti kegiatan mengaji di lingkungan tempat tinggal.

Rencana kegiatan belajar hingga sore dikhawatirkan membuat siswa kelelahan dan kehilangan waktu untuk mengikuti pendidikan keagamaan. Masukan itu menjadi salah satu bahan yang diperhitungkan dalam kajian Disdik.

“Ormas itu kemarin juga menyampaikan pendapat. Pendapatnya baik, mengkhawatirkan bahwa anak-anak yang selama ini ngaji itu nanti ketika sekolahnya sampai sore kecapekan dan enggak ngaji,” kata Muhsin.

Untuk memetakan potensi dampaknya, Disdik mendata siswa yang mengikuti kegiatan mengaji beserta jadwalnya. Hasil pendataan sementara menunjukkan waktu mengaji siswa SMP cenderung berlangsung setelah Magrib. Sementara itu, jadwal siswa SD lebih beragam, mulai pukul 15.00, 16.00, hingga 17.00.

Perbedaan jadwal tersebut menjadi perhatian, terutama bagi siswa SD kelas rendah yang mengikuti kegiatan mengaji pada siang hingga sore hari.

“Untuk anak-anak kelas rendah yang ngajinya biasanya siang, ini nanti akan kita analisis berpengaruh enggak jam sekolah mereka dengan pelaksanaan ngaji,” jelasnya.

Sebagai salah satu alternatif, Disdik juga membuka kemungkinan penyediaan guru mengaji di sekolah. Opsi tersebut masih dalam tahap komunikasi, termasuk kemungkinan melibatkan guru mengaji yang baru maupun yang telah menerima bisyaroh atau insentif.

“Kita akan menyiapkan opsi sekolah-sekolah menyediakan guru ngaji. Monggo nanti guru ngaji yang baru atau yang sudah memperoleh bisyaroh, kita sedang komunikasikan ini,” terang Muhsin.

Meski demikian, rencana tersebut masih perlu dikaji lebih lanjut. Disdik harus menghitung kebutuhan layanan, jumlah siswa, serta ketersediaan tenaga pengajar agar pelaksanaannya sesuai kondisi masing-masing sekolah.

Dengan sejumlah pertimbangan tersebut, penerapan lima hari sekolah di Kabupaten Kediri belum bisa dipastikan. Keputusan akhir menunggu laporan hasil kajian, aspirasi masyarakat, dan arahan pimpinan daerah. (*)

Tags : #DisdikKabupatenKediri #KajianLimaHariMasukSekolah #BeritaPendidikan #enewsindoKediri

Ikuti Kami :

Komentar