Detail Berita
PTPN I Dorong Transformasi Bisnis Berbasis Nilai Tambah
Pewarta : Evelyne
31 Agustus 2026
09:51
Produk PTPN I (Foto : Istimewa)
JAKARTA, enewsindo.co.id – Perubahan pola konsumsi masyarakat membawa tantangan baru bagi industri perkebunan. Produk perkebunan kini tidak cukup hanya dipanen dan dipasarkan sebagai komoditas. Nilai sebuah produk semakin ditentukan oleh bagaimana komoditas tersebut diolah, dikemas, diberi identitas, dan mampu menjawab kebutuhan konsumen.
Kondisi inilah yang mendorong PT Perkebunan Nusantara I (Persero) memperkuat strategi hilirisasi melalui pemasaran dan pengembangan merek.
PTPN I secara bertahap memperluas orientasi bisnisnya. Jika sebelumnya penjualan lebih banyak bertumpu pada transaksi antarkorporasi atau business to business (B2B), kini perusahaan juga membuka ruang yang lebih besar untuk pasar ritel.
Perubahan tersebut membuat produk PTPN I diharapkan tidak berhenti sebagai komoditas, tetapi hadir sebagai produk yang dikenal dan digunakan masyarakat.
Direktur Utama PTPN I Abdul Rivai Ras mengatakan, transformasi bisnis harus diikuti perubahan pola pikir seluruh insan perusahaan. Fungsi pemasaran, menurut dia, memiliki peran penting dalam memastikan produk perusahaan mampu menjangkau konsumen secara lebih luas.
"Kalau dulu pemasaran PTPN I lebih banyak mengelola transaksi antarkorporasi, bahkan mewakili kerja sama antarpemerintah, sekarang tantangannya jauh lebih besar. Produk-produk PTPN I harus hadir di semua lini pasar. Dari warung kecil, pedagang kaki lima, hingga hotel berbintang, semuanya harus mengenal dan menjual produk kita," ujar Rivai di Jakarta, Senin (31/8/2026).
Bagi Rivai, pemasaran bukan sekadar aktivitas menjual produk. Pemasaran menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk menciptakan pertumbuhan sekaligus memperkenalkan kekuatan perkebunan Indonesia kepada masyarakat.
Karena itu, ia mendorong seluruh insan PTPN I memiliki pengetahuan yang kuat mengenai produk perusahaan. Karyawan juga diharapkan menggunakan produk PTPN I serta ikut memperkenalkannya kepada masyarakat.
"Sebagai insan PTPN I, kita harus menggunakan produk kita sendiri. Kita juga harus memiliki product knowledge yang baik dan menjadi duta promosi di mana pun berada. Kenalkan kepada siapa pun, karena kita percaya kualitas produk PTPN I mampu bersaing. Setiap insan perusahaan harus menjadi pintu masuk terciptanya profit bagi perusahaan," kata Rivai.
Transformasi hilirisasi yang dilakukan PTPN I tidak berhenti pada proses pengolahan. Perusahaan juga berupaya membangun identitas produk melalui penguatan merek.
Direktur Pemasaran PTPN I Arif Budiman mengatakan, persaingan industri perkebunan telah mengalami perubahan. Perusahaan tidak cukup hanya memiliki produksi dalam jumlah besar, tetapi harus mampu menciptakan nilai yang membuat produknya memiliki tempat di hati konsumen.
"Persaingan industri perkebunan saat ini tidak lagi ditentukan oleh besarnya produksi, tetapi oleh kemampuan perusahaan menciptakan nilai melalui inovasi, diferensiasi produk, dan kekuatan merek. Pemasaran memiliki peran strategis mengubah potensi komoditas menjadi produk unggulan yang memiliki daya saing tinggi," kata Arif.
PTPN I memiliki beragam komoditas unggulan, mulai dari karet, teh, kopi, kakao, tembakau hingga cerutu premium. Keragaman tersebut menjadi modal bagi perusahaan untuk mengembangkan portofolio produk bernilai tambah.
Pada sektor teh, misalnya, merek Walini terus dikembangkan untuk menjangkau karakter konsumen yang semakin beragam.
Salah satunya melalui Ready to Drink (RTD) Premium Tea Walini yang menawarkan kepraktisan bagi konsumen dengan gaya hidup modern. Selain itu, terdapat Walini Signature Malabar Orange Pekoe Loose Tea yang menyasar segmen premium, termasuk kebutuhan gifting.
Di sektor kopi, PTPN I mengembangkan merek Rollas dan Banaran untuk memperkenalkan karakter kopi Nusantara yang berasal dari perkebunan Indonesia.
Sementara itu, produk tembakau premium seperti Golden Djawa dan Cerutu Deli Nusantara menjadi bagian dari upaya membawa kekayaan dan warisan perkebunan Indonesia ke pasar yang lebih luas, termasuk pasar internasional.
Menurut Arif, pengembangan merek memiliki arti lebih luas daripada sekadar memberikan nama pada sebuah produk.
"Pengembangan merek bukan sekadar menciptakan nama produk, tetapi membangun kepercayaan dan hubungan jangka panjang dengan konsumen. Ketika komoditas mampu bertransformasi menjadi produk bermerek yang memiliki kualitas dan karakter kuat, manfaat ekonomi yang dihasilkan akan semakin besar," ujarnya.
Menjemput Konsumen di Era Digital
Perubahan perilaku konsumen juga menjadi perhatian dalam strategi pemasaran PTPN I. Perusahaan melihat kanal digital sebagai salah satu ruang penting untuk memperkenalkan produk sekaligus membangun komunikasi dengan konsumen.
Strategi pemasaran diarahkan pada penguatan brand equity, peningkatan customer experience, perluasan jaringan kemitraan, serta optimalisasi kanal digital.
Dengan pendekatan tersebut, hubungan antara produsen dan konsumen tidak lagi sebatas transaksi. Konsumen diharapkan mengenal cerita, kualitas, karakter, dan nilai yang melekat pada setiap produk.
Arif mengatakan, ukuran keberhasilan pemasaran tidak hanya dilihat dari peningkatan angka penjualan. Loyalitas konsumen dan kemampuan merek perusahaan menjadi pilihan utama juga menjadi bagian penting dari keberhasilan transformasi.
"Kami ingin PTPN I tidak hanya dikenal sebagai produsen komoditas perkebunan unggulan, tetapi juga sebagai perusahaan yang memiliki merek-merek nasional yang kuat, inovatif, dan mampu bersaing di pasar global," katanya.
Menurut dia, masa depan industri perkebunan tidak hanya ditentukan oleh apa yang dihasilkan dari kebun. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana hasil perkebunan tersebut dapat memberikan nilai maksimal setelah sampai ke tangan konsumen.
"Masa depan industri perkebunan tidak hanya ditentukan oleh hasil yang dipanen dari kebun, tetapi juga oleh kemampuan menghadirkan nilai hingga sampai ke tangan konsumen," ujar Arif.
Bagi PTPN I, hilirisasi menjadi bagian penting dari perjalanan transformasi perusahaan. Dari perkebunan, komoditas diolah menjadi produk. Dari produk, dibangun merek. Selanjutnya, merek tersebut diperkuat melalui pemasaran agar mampu menjangkau konsumen secara lebih luas.
Langkah ini sekaligus menjadi upaya PTPN I membangun perusahaan perkebunan yang tidak hanya kuat dari sisi produksi, tetapi juga memiliki daya saing melalui inovasi, merek, dan kedekatan dengan konsumen. (ADV)
Komentar
Berita Terbaru
Pendidikan & Teknologi
Piala Kemerdekaan Askab PSSI Nias Selatan Berakhir, Perjuangan FC Keluar sebagai Juara
31 Agustus 2026
10:53
Ekonomi & Bisnis
PTPN I Dorong Transformasi Bisnis Berbasis Nilai Tambah
31 Agustus 2026
09:51
Hukum & Politik
Ina Ani Dakhi Tutup Usia, Keluarga Besar DPRD Sumut Thomas Dakhi Berduka
30 Agustus 2026
07:40
Hukum & Politik
Karnaval Wringinagung Jadi Panggung Kreativitas Warga, Budaya Nusantara Diarak 4 Kilometer
29 Agustus 2026
17:06
Hukum & Politik
Ansor Jatim Usul Muktamar NU Mendatang Digelar di Hutan, Dorong Ekonomi Warga Sekitar
29 Agustus 2026
13:26