Detail Berita

Hiburan

Festival Ngopi Sepuluh Ewu Kemiren Angkat Filosofi Keramahan Suku Osing

Pewarta : Hakim Said

08 November 2026

09:41

Festival Ngopi Sepuluh Ewu di Kemiren mengangkat filosofi Suguh, Gupuh dan Lungguh di Kemiren (foto : Hakim Said)

BANYUWANGI, enewsindo.co.id - Festival Ngopi Sepuluh Ewu Cangkir di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Sabtu malam 7 November 2026, kembali mengangkat filosofi suguh, gupuh, lungguh sebagai kearifan lokal masyarakat Suku Osing dalam menyambut tamu.

Festival yang memasuki penyelenggaraan ke-13 sejak pertama kali digelar pada 2014 tersebut diikuti masyarakat Desa Kemiren dengan menyajikan ribuan cangkir kopi secara gratis kepada pengunjung, termasuk wisatawan mancanegara.

Ribuan pengunjung memadati jalan utama desa dan menikmati kopi serta aneka makanan tradisional khas Osing yang disediakan warga di halaman rumah masing-masing.

Sejumlah kudapan tradisional yang disajikan antara lain kucur, tape ketan berbungkus daun kemiri, dan pisang goreng.

Wisatawan asal Kanada, Jay, mengaku terkesan dengan keramahan masyarakat Desa Kemiren serta cita rasa kopi yang disuguhkan secara gratis.

"Kami disambut sangat ramah. Masyarakat sini memberikan secangkir kopi gratis dan rasanya sangat enak," kata Jay.

Hal serupa disampaikan Sarah, wisatawan asal Spanyol, yang mengaku senang dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat setempat. Sementara itu, Kazuki Yoshida, wisatawan asal Jepang, mengaku terkesan dengan beragam kuliner khas Banyuwangi yang disajikan dalam festival tersebut.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan tradisi minum kopi masyarakat Osing tidak hanya menjadi kebiasaan sehari-hari, tetapi juga mencerminkan nilai persaudaraan dan gotong royong.

Menurut dia, nilai tersebut tercermin dalam semboyan Sak Corot Dadi Sakduluran, yang berarti sekali seduh menjadi saudara.

"Festival ini menjadi bagian dari upaya menjaga semangat gotong royong. Masyarakat ikhlas dan senang menyuguhkan kopi secara gratis kepada siapa saja, bahkan kepada orang yang belum dikenal. Meski sederhana, cara ini menjadi kekuatan untuk merajut persaudaraan dan persatuan," ujar Ipuk.

Ia mengapresiasi masyarakat Desa Kemiren yang konsisten mempertahankan tradisi leluhur sehingga desa tersebut dikenal sebagai desa adat wisata. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, kata dia, akan terus mendukung pelestarian budaya dan pengembangan potensi wisata setempat.

Sementara itu, Kepala Desa Kemiren Muhammad Arifin mengatakan Festival Ngopi Sepuluh Ewu merupakan representasi kearifan lokal masyarakat Osing dalam menerima dan menghormati tamu.

Ia menjelaskan filosofi suguh, gupuh, lungguh memiliki tiga makna dalam tradisi penyambutan tamu.

Suguh berarti memberikan hidangan kepada tamu, meskipun hanya berupa minuman. Gupuh bermakna antusias dan sigap menyambut kedatangan tamu, sedangkan lungguh berarti menyediakan tempat duduk yang layak agar tamu merasa nyaman.

"Kami diajarkan suguh, gupuh, lungguh dalam menerima tamu," kata Arifin.

Ia berharap tradisi tersebut terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi berikutnya sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Osing.

"Ngopi Sepuluh Ewu ini merupakan wujud kearifan lokal, budaya, dan adat istiadat masyarakat Osing dalam menerima tamu. Kearifan ini perlu terus kita rawat dan wariskan kepada anak cucu," ujarnya.

Tags : #FestivalNgopidiKemiren #BeritaBanyuwangi #enewsindoBanyuwangi #PemkabBanyuwangi

Ikuti Kami :

Komentar