Detail Berita
Kenaikan Harga Pertamax Ancam Ketahanan Ekonomi Kelas Menengah
Pewarta : Redaksi
17 Juni 2026
13:44
Antrean kendaraan roda dua di salah satu SPBU di Jember usai kenaikan harga BBM jenis Pertamax, mendorong masyarakat beralih ke Pertalite. (Foto: Istimewa)
JEMBER, enewsindo.co.id - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax yang mencapai lebih dari 30 persen mulai menimbulkan dampak nyata di tengah masyarakat Jember.
Perubahan harga yang cukup signifikan tersebut mendorong banyak pengguna kendaraan untuk beralih ke BBM bersubsidi, sehingga sejumlah SPBU mengalami peningkatan antrean kendaraan dalam beberapa waktu terakhir.
Kondisi ini juga memengaruhi ketersediaan Pertalite yang permintaannya meningkat tajam dibandingkan sebelumnya.
Pengamat Kebijakan Publik sekaligus Dosen FISIP Universitas Jember, Muhammad Iqbal, menilai bahwa kenaikan harga BBM tidak hanya berdampak pada biaya transportasi masyarakat, tetapi juga memberikan tekanan bagi sektor ekonomi kecil.
Menurutnya, pelaku UMKM, pengemudi ojek online, kurir, hingga pekerja harian menjadi kelompok yang paling cepat merasakan dampak dari meningkatnya biaya operasional akibat penyesuaian harga bahan bakar tersebut.
Namun demikian, Iqbal menyoroti bahwa kelompok masyarakat kelas menengah justru berada pada posisi yang paling rentan. Mereka tidak termasuk penerima bantuan sosial dari pemerintah, tetapi tetap harus menghadapi kenaikan biaya hidup yang terjadi secara bertahap.
Dalam keterangannya kepada Radar Jember, Iqbal mengatakan, “Kelas menengah ini kelompok yang sangat rentan. Mereka tidak masuk dalam daftar penerima bantuan sosial (bansos), tidak tersentuh BLT atau jaminan sosial lainnya dari anggaran pusat maupun daerah.”
Ia menjelaskan bahwa tekanan ekonomi yang terus berlanjut berpotensi membuat masyarakat kelas menengah menggunakan tabungan sebagai penyangga kebutuhan sehari-hari.
Jika situasi tersebut berlangsung dalam waktu lama tanpa adanya langkah mitigasi yang memadai, kondisi keuangan mereka dikhawatirkan semakin melemah dan berisiko menambah beban utang rumah tangga.
Karena itu, Iqbal mendorong pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah strategis melalui koordinasi dengan berbagai pihak terkait.
Selain memastikan ketersediaan BBM bersubsidi, pemerintah juga diharapkan menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok serta menyusun kebijakan yang mampu melindungi daya beli masyarakat.
Menurutnya, penurunan daya beli yang tidak terkendali dapat berdampak pada aktivitas ekonomi daerah dan berpotensi menekan pendapatan daerah dari sektor pajak maupun retribusi.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi masyarakat, ia juga mengusulkan adanya efisiensi penggunaan BBM pada kendaraan operasional pemerintah.
Namun, kebijakan tersebut harus dilakukan secara cermat agar tidak menimbulkan persoalan baru, terutama terkait penggunaan kuota Pertalite yang seharusnya lebih diprioritaskan bagi masyarakat yang membutuhkan. (*)
Komentar
Berita Terbaru
Hiburan
Semboro Bergetar ! 36 Truk Sound Horeg dan Ratusan Dancer Bikin Karnaval Membahana
31 Oktober 2026
21:27
Hukum & Politik
Bunga Desaku di Jelbuk, Gus Fawait Sosialisasikan Layanan Kesehatan Gratis
31 Oktober 2026
19:58
Hukum & Politik
Gus Fawait Blusukan ke Jelbuk, Serap Aspirasi UMKM hingga Petani
31 Oktober 2026
17:37
Hukum & Politik
Dana Desa Hilimaera Tak Cair, Pj Kades dan BPD Keberatan, DPMD Sebut Imbas Kelalaian Mantan Kades
31 Oktober 2026
14:14
Hukum & Politik
Ratusan Anggota PMR Ikuti Amerta 2 Jember, PMI Dorong Relawan Muda Peduli Lingkungan
31 Oktober 2026
13:51