Detail Berita
"Janda Reni" Sego Lemeng dan Kopi Uthek Mengikat Rindu di Lereng Ijen
Pewarta : Evelyne
20 April 2026
08:53
Warga Desa Banjar, Licin, Banyuwangi, menyajikan sego lemeng dan kopi uthek dalam kemeriahan Festival Janda Reni (foto ; Evelyne )
BANYUWANGI, enewsindo.co.id - Malam di Desa Banjar, Kecamatan Licin, tak sekadar dingin khas lereng Gunung Ijen. Sabtu (18/4/2026) lalu, suasana berubah hangat oleh bara api, kepulan asap bambu terbakar, dan lautan manusia yang tumpah ruah dalam event “Janda Reni”.
Di sepanjang jalan desa, warga berjajar menyajikan dua warisan kuliner khas masyarakat Osing, sego lemeng dan kopi uthek. Aroma nasi berbumbu yang dipanggang dalam bambu muda menyeruak, menggoda siapa saja yang melintas untuk berhenti dan mencicipi.
Event “Janda Reni” sendiri menjadi bagian dari kalender Banyuwangi Festival (Banyuwangi Attraction) 2026. Bukan sekadar pesta kuliner, ajang ini menjadi ruang temu antara tradisi, cerita, dan identitas lokal yang terus dijaga.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menegaskan bahwa kekuatan daerah tidak hanya bertumpu pada alam dan budaya, tetapi juga kuliner khas yang sarat nilai.
“Masyarakat Banyuwangi memiliki akar tradisi yang kuat, termasuk kulinernya. Karena itu kami berkomitmen melestarikannya lewat event yang menarik sekaligus menjadi atraksi wisata,” ujarnya, Minggu (19/4/2026).
Ia juga mengapresiasi warga Desa Banjar yang terus “nguri-uri” tradisi. Menurutnya, upaya itu penting agar warisan leluhur tetap hidup dan bisa dinikmati lintas generasi.
Di balik nama unik “Janda Reni”, tersimpan makna yang tak banyak diketahui. Tokoh adat Desa Banjar, Lukman Hakim, menjelaskan bahwa istilah tersebut berasal dari proses dalam pertanian tradisional.
“Reni itu bunga aren, sementara janda atau rondo berarti proses pemisahan. Jadi ‘Janda Reni’ adalah proses memisahkan bunga aren,” ungkapnya.
Tak hanya nama, sajian yang dihidangkan pun penuh filosofi. Kepala Desa Banjar, Sunandi, menyebut sego lemeng dan kopi uthek bukan sekadar makanan dan minuman.
“Kopi uthek dengan gula aren menggambarkan pahit-manis kehidupan. Sementara sego lemeng adalah simbol ketahanan, makanan yang mengenyangkan,” jelasnya.
Sego lemeng sendiri dimasak dengan cara yang tak biasa. Nasi berbumbu dicampur daging ayam atau ikan, dibungkus daun pisang, lalu dimasukkan ke dalam bambu muda. Setelah itu, bambu dibakar selama sekitar empat jam hingga menghasilkan aroma khas dan rasa gurih yang meresap hingga ke dalam.
Sementara kopi uthek menawarkan sensasi unik. Penikmat menyeruput kopi pahit setelah menggigit gula aren. Bunyi “tek” saat gula digigit itulah yang melahirkan nama “uthek”.
Perpaduan keduanya menghadirkan pengalaman rasa yang sulit dilupakan.
“Gurihnya sego lemeng dan pahit-manis kopi uthek itu pas banget. Sensasinya beda,” ujar Edy, wisatawan asal Sidoarjo.
Lebih dari sekadar festival, “Janda Reni” adalah cara Banyuwangi merawat ingatan kolektifnya bahwa di tengah arus modernisasi, tradisi bisa tetap hidup, bahkan menjadi daya tarik yang mengundang dunia datang. (*)
Komentar
Berita Terbaru
Hukum & Politik
Pj Sekda Nias Selatan dan PLN Bahas Percepatan Listrik Desa
3 September 2026
13:11
Hukum & Politik
Korban Keracunan 431 Santri, Pengasuh Ponpes Sidoarjo Tegaskan Tak Ada Korban
2 September 2026
15:47
Hukum & Politik
Di Tengah Duka Thomas Dakhi, Adilina Ndruru Bawa Pesan Solidaritas Gerindra
2 September 2026
15:37
Hiburan
4.000 Peserta, Siap Meriahkan Karnaval di Tutul - Balung Balung
2 September 2026
13:19
Hukum & Politik
Tiga Warga Tewas Selama Agustus 2026, MUI Jatim Desak Pelarangan
2 September 2026
13:16