Detail Berita
Denting Gamelan di Tanah Sumatera, Reog Obyog Bangkitkan Rasa Jawa
Pewarta : Asri
05 April 2026
21:38
Penari Reog Obyog tampil memukau di Lapangan Pekan Senen, Bandar Setia, Tembung, Deli Serdang, dalam Festival Reog Obyog Kampung Kolam 2026 (Asri)
DELI SERDANG, enewsindo.co.id - Semangat menjaga akar budaya tak pernah benar-benar padam, bahkan ketika jarak memisahkan dari tanah kelahiran. Hal itu terasa begitu hidup dalam gelaran Festival Reog Obyog Kampung Kolam 2026 yang berlangsung di Lapangan Pekan Senen, Bandar Setia, Tembung, Kabupaten Deli Serdang, Sabtu hingga Minggu, 4–5 April 2026.
Di tengah hiruk-pikuk perantauan Sumatera Utara, denting gamelan dan hentakan kaki para penari reog seolah menjadi jembatan rasa rindu pada Jawa. Ratusan warga tumpah ruah memenuhi lapangan sejak sore hingga malam, larut dalam atmosfer yang bukan sekadar hiburan, melainkan perayaan identitas.
Mengusung tema “Upaya Pelestarian Budaya Warisan Leluhur di Perantauan Sumatera Utara", festival ini bukan hanya ajang kompetisi memperebutkan Piala Kementerian Kebudayaan se-Sumatera Utara. Lebih dari itu, ia menjadi ruang temu bagi kenangan, kebanggaan, sekaligus tekad untuk menjaga tradisi agar tetap hidup di tanah rantau.

Di balik panggung yang gemerlap, ada kerja keras dan dedikasi. Ketua pelaksana, Wahyu Purnomo, bersama timnya merangkai acara ini dengan penuh ketulusan. Setiap detail disiapkan agar budaya reog tidak sekadar dipertontonkan, tetapi juga dirasakan maknanya oleh generasi muda.
Sorak-sorai penonton pecah setiap kali kelompok reog tampil. Namun, malam itu, ada satu penampilan yang benar-benar menyihir perhatian yakni Sanggar Seni SINGOPATI SEBOMANGGOLO Sumatera Utara.
Di bawah kepemimpinan Pramono, sanggar ini tampil berbeda. Gerakan para penari begitu padu, dinamis, dan penuh energi. Kostum yang dikenakan tampak megah sekaligus sarat filosofi, sementara ekspresi para pemain memancarkan kecintaan mendalam terhadap seni tradisi.
Setiap adegan yang disuguhkan bukan hanya pertunjukan, tetapi narasi tentang warisan leluhur yang dijaga dengan sepenuh hati.
Penonton terpaku. Beberapa di antaranya tampak merekam dengan ponsel, sebagian lain hanya bisa terpukau tanpa berkedip. Malam itu, SINGOPATI SEBOMANGGOLO bukan sekadar tampil mereka menghidupkan kembali roh budaya di tengah perantauan.
Puncak acara menjadi momen yang paling ditunggu. Saat nama Sanggar Seni SINGOPATI SEBOMANGGOLO diumumkan sebagai Favorit Terbaik festival, suasana langsung bergemuruh. Tepuk tangan, sorakan, dan teriakan kebanggaan bersahutan dari berbagai penjuru lapangan.
Bagi para perantau, kemenangan itu bukan hanya soal gelar. Ia adalah simbol bahwa budaya Jawa tetap tumbuh, berdenyut, dan menemukan rumah baru di Sumatera Utara.
Festival ini pun meninggalkan kesan mendalam. Ia bukan sekadar agenda tahunan, melainkan bukti bahwa di mana pun berada, warisan leluhur akan selalu menemukan cara untuk tetap hidup melalui gerak, musik, dan semangat yang tak pernah padam. (*)
Komentar
Berita Terbaru
Hiburan
Denting Gamelan di Tanah Sumatera, Reog Obyog Bangkitkan Rasa Jawa
5 April 2026
21:38
Hukum & Politik
Panti Rehabilitasi Mandiri dan Batas Kewenangan: Antara Niat Sosial dan Risiko Hukum
5 April 2026
17:57
Hukum & Politik
Halal Bihalal Jadi Ruang Konsolidasi, Laskar Tawangalun Perluas Peran Sosial dan Hukum
5 April 2026
10:22
Hukum & Politik
Jalur Rambipuji Jember Sempat Lumpuh, Pohon Trembesi Tumbang Tutup Jalan
4 April 2026
19:20
Pendidikan & Teknologi
SMAPTA Kota Kediri Tancap Gas, 64 Siswa Tembus SNBP 2026
4 April 2026
18:41