Detail Berita
Ritual Puter Kayun Boyolangu Banyuwangi Napak Tilas Leluhur yang Masih Terawat
Pewarta : Evelyne
30 Maret 2026
21:46
Ritual Puter Kayun Boyolangu di Banyuwangi (Evelyne)
BANYUWANGI, enewsindo.co.id - Tradisi tahunan Ritual Puter Kayun kembali digelar oleh warga Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Banyuwangi, setiap 10 Syawal sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.
Ritual ini menjadi simbol napak tilas sekaligus peneguhan janji warga kepada Ki Buyut Jakso, tokoh yang dipercaya berjasa membuka akses jalan di kawasan utara Banyuwangi.
Sejak pagi, suasana Boyolangu tampak semarak. Dua dokar (delman) yang dihias megah disiapkan sebagai ikon utama ritual. Para kusir pun bersiap mengantarkan rombongan dalam prosesi napak tilas menuju Pantai Watu Dodol.
Salah satu kusir, Abdul Mufid (65), mengaku telah puluhan tahun mengikuti tradisi ini. Ia bahkan mulai menjadi kusir sejak 1971 dan hingga kini tetap setia menjalani profesinya.
“Saya sudah menjadi kusir sejak tahun 1971. Setiap tahun selalu mengikuti tradisi Puter Kayun bersama warga di sini. Karena pada tradisi ini yang terpenting adalah napak tilasnya,” ujarnya.
Ketua Panitia Puter Kayun, Risyal Alfani, menjelaskan tradisi ini merupakan bentuk penghormatan terhadap Ki Buyut Jakso. Menurutnya, sosok tersebut memiliki peran penting dalam membuka jalur di wilayah utara Banyuwangi yang dahulu sulit ditembus.
“Konon, saat membuka jalan di sebelah utara, Belanda meminta bantuan pada Ki Buyut Jakso karena ada gundukan gunung yang tidak bisa dibongkar. Setelah bersemedi di Gunung Silangu, ia berhasil membuka jalan itu. Dari situlah muncul nama Watu Dodol, yang berarti batu yang dibongkar,” jelasnya.
Ia menambahkan, Ki Buyut Jakso berpesan agar keturunannya selalu melakukan napak tilas ke Pantai Watu Dodol. Karena mayoritas warga Boyolangu dahulu berprofesi sebagai kusir dokar, tradisi ini pun dilakukan dengan menggunakan dokar.
Namun, pada pelaksanaan tahun ini, rute napak tilas mengalami penyesuaian. Dokar hanya berputar di kawasan kota Banyuwangi dan tidak melanjutkan perjalanan hingga Pantai Watu Dodol. Hal ini disebabkan kemacetan panjang di jalur menuju Pelabuhan Ketapang.
Seorang warga mengungkapkan, kondisi tersebut juga memengaruhi rombongan pengiring. Jika biasanya menggunakan kendaraan roda empat, tahun ini banyak yang beralih menggunakan sepeda motor untuk menghindari kemacetan.
“Biasanya kami ikut mengiringi dengan mobil, tapi sekarang banyak yang pakai motor agar bisa menembus macet,” katanya.
Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Hartono, menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga dan mengembangkan tradisi lokal. Menurutnya, Puter Kayun tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga menjadi daya tarik wisata.
“Banyuwangi berkomitmen untuk mengangkat dan melestarikan tradisi lokal masyarakat, termasuk Puter Kayun Boyolangu. Selain menjaga ritual, ini juga menjadi bagian dari atraksi wisata daerah,” ujarnya.
Sebelum puncak acara Puter Kayun, warga Boyolangu juga menggelar rangkaian kegiatan bertajuk Boyolangu Traditional Culture. Rangkaian tersebut dimulai pada 7 Syawal dengan Lebaran Kopat yang diisi selamatan dan makan bersama, dilanjutkan Tradisi Kebo-keboan pada 9 Syawal.
Tradisi Puter Kayun pun tetap berlangsung khidmat, meski di tengah keterbatasan rute. Bagi warga Boyolangu, esensi utama bukan sekadar perjalanan, melainkan menjaga warisan leluhur yang telah mengakar turun-temurun. (*)
Komentar
Berita Terbaru
Hukum & Politik
Ground Breaking Jembatan Perintis Garuda Dimulai di Songgon Banyuwangi
30 Maret 2026
22:24
Hukum & Politik
Trafik Bandara Banyuwangi Naik, Cerminkan Kepercayaan Publik
30 Maret 2026
22:03
Ekonomi & Bisnis
Ritual Puter Kayun Boyolangu Banyuwangi Napak Tilas Leluhur yang Masih Terawat
30 Maret 2026
21:46
Pendidikan & Teknologi
Halalbihalal, SMPN 1 Gampengrejo Kabupaten Kediri Pererat Hubungan dengan Warga
30 Maret 2026
17:36
Hukum & Politik
Hujan disertai Angin Kencang Terjang Kediri, 18 Titik Pohon Tumbang
30 Maret 2026
17:22