Detail Berita

Pendidikan & Teknologi

Dari Inisiatif Mahasiswa, Pura Agung Amerta Asri di Patrang Jadi Simbol Keberagaman

Pewarta : Evelyne

16 Maret 2026

22:59

Pura Agung Amerta Asri yang ada di dekat Masjid di Patrang Simbol Keberagaman (Evelyne)

JEMBER, enewsindo.co.id – Di balik berdirinya Pura Agung Amerta Asri, tersimpan kisah panjang tentang inisiatif, perjuangan, serta semangat gotong royong komunitas Hindu di Jember. Pura yang kini berdiri kokoh di kawasan padat permukiman Kecamatan Patrang itu tidak lahir dalam waktu singkat, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan banyak pihak sejak lebih dari setengah abad lalu.

Penelusuran terhadap sejarah pura ini menunjukkan bahwa embrio pembentukannya muncul pada dekade 1960-an, ketika Jember berkembang sebagai kota pendidikan yang menarik mahasiswa dari berbagai daerah, termasuk Bali. Pada masa itu, jumlah mahasiswa Hindu di Jember cukup besar.

Pemangku pura, Rai Jelantik, mengungkapkan bahwa pada periode tersebut diperkirakan terdapat sekitar 400 mahasiswa Hindu asal Bali yang menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi di Jember.

“Jumlahnya cukup banyak. Tetapi saat itu belum ada tempat ibadah khusus bagi umat Hindu untuk melaksanakan persembahyangan bersama,” ujarnya.

Ketiadaan tempat ibadah tersebut mendorong munculnya gagasan dari para mahasiswa dan tokoh umat Hindu setempat untuk membangun sebuah pura. Namun, realisasi gagasan tersebut menghadapi berbagai keterbatasan, terutama terkait ketersediaan lahan dan pendanaan.

Dari berbagai sumber cerita para sesepuh umat Hindu di Jember, diketahui bahwa lahan yang kini menjadi kawasan pura tidak diperoleh secara langsung dalam satu tahap. Para pendahulu umat Hindu membeli tanah secara bertahap, menyesuaikan kemampuan finansial yang ada saat itu.

Proses pembelian lahan bahkan dilakukan secara kapling demi kapling. Cara ini menunjukkan bahwa pembangunan pura lebih banyak digerakkan oleh swadaya umat dibandingkan dukungan institusional pada masa awalnya.

Sekitar tahun 1969 hingga 1970, pembangunan awal pura mulai direalisasikan di wilayah Patrang. Bagian pertama yang dibangun adalah area utama atau mandala utama, yang menjadi pusat kegiatan persembahyangan.

Dari titik inilah aktivitas keagamaan umat Hindu di Jember mulai terpusat. Seiring berjalannya waktu, kawasan pura terus mengalami perkembangan, baik dari segi luas lahan maupun fasilitas yang tersedia.

Area yang semula hanya berfungsi sebagai tempat sembahyang perlahan dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung kegiatan keagamaan. Salah satunya adalah area yang kini digunakan sebagai tempat parkir bagi umat yang datang untuk mengikuti upacara maupun kegiatan spiritual lainnya.

Lebih dari lima dekade berlalu, keberadaan Pura Agung Amerta Asri kini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah. Pura tersebut juga menjadi penanda eksistensi komunitas Hindu di Jember serta simbol perjalanan panjang kehidupan beragama di daerah tersebut.

Pemerintah setempat juga mulai memberikan perhatian terhadap keberadaan pura yang memiliki nilai sejarah tersebut. Lurah Patrang, Hariyono, menilai pura tersebut merupakan bagian penting dari warisan sosial dan budaya masyarakat setempat.

“Pura ini bukan hanya tempat ibadah umat Hindu, tetapi juga bagian dari sejarah keberagaman di wilayah Patrang. Karena itu perlu dijaga dan dilestarikan bersama,” katanya.

Menelusuri perjalanan berdirinya Pura Agung Amerta Asri memperlihatkan bagaimana sebuah tempat ibadah dapat lahir dari kebutuhan komunitas, dibangun melalui semangat gotong royong, dan kemudian berkembang menjadi simbol kerukunan yang tetap bertahan di tengah perubahan zaman.


Tags : #Jember #Patrang #PuraAgungAmertaAsri #SejarahJember #KerukunanBeragama

Ikuti Kami :

Komentar