Detail Berita

Hukum & Politik

Di Bawah Cahaya Malam, Gandrung Sewu Menari Menjaga Tradisi Banyuwangi

Pewarta : Hakim

25 Oktober 2026

08:31

Penari Gandrung Sewu di Pantai

BANYUWANGI, enewsindo.co.id - Di tengah gelapnya malam, cahaya menyapu kawasan pantai Marino Boom Banyuwangi. Terlihat, sekitar 1.300 penari bergerak serempak. Omprog atau mahkota khas Gandrung, sampur, dan kipas yang mereka bawa memantulkan cahaya, menghadirkan pemandangan yang berbeda dari pergelaran Gandrung Sewu selama ini.

Musik tradisional mengiringi gerakan para penari. Tubuh dan busana mereka tampak berpendar ketika tersentuh sorotan lampu. Di hadapan puluhan ribu penonton, tari Gandrung tampil dalam wajah baru: lebih teatrikal, dengan tata cahaya dan teknologi visual yang menjadi bagian dari pertunjukan.

Untuk pertama kalinya, Gandrung Sewu digelar pada malam hari. Perubahan itu bukan sekadar memindahkan waktu pertunjukan, melainkan juga menghadirkan cara berbeda untuk mempertemukan seni tradisi dengan penonton masa kini.

Di Banyuwangi, Gandrung bukan hanya tarian untuk dipertontonkan. Kesenian ini menjadi bagian dari identitas masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Melalui Gandrung Sewu, warisan tersebut dibawa ke ruang pertunjukan berskala besar, melibatkan ribuan penari dan berbagai unsur pendukung.

Tahun ini, pergelaran yang memasuki tahun ke-14 itu mengangkat tema Kembang Dermo. Konsep glow in the dark menjadi salah satu pembeda. Omprog, sampur, dan kipas dirancang menggunakan bahan pemantul cahaya. Sementara itu, body painting berbahan fosfor pada tubuh dan busana penari memperkuat kesan berpendar di tengah gelapnya malam.

Namun, kemegahan visual bukan satu-satunya hal yang ditawarkan. Pertunjukan dibuka dengan teatrikal Meras Gandrung, yang menggambarkan ritual adat dalam proses kelulusan penari Gandrung profesional.

Adegan tersebut membawa penonton pada sisi lain kesenian ini. Di balik gerakan yang terlihat serempak dan busana yang memikat, terdapat proses belajar serta tradisi yang harus dijaga agar Gandrung tidak berhenti sebagai tontonan.

Pertunjukan semakin meriah ketika ratusan titik cahaya dari drone show membentuk beragam visual di langit Pantai Marina Boom. Sosok Gandrung, Gunung Ijen, dan sejumlah simbol Banyuwangi muncul sebagai bagian dari rangkaian pertunjukan.

Teknologi memberi dimensi baru pada kesenian tradisional tersebut. Meski demikian, tantangannya bukan semata menghadirkan pertunjukan yang lebih menarik, melainkan memastikan bahwa perubahan penyajian tidak menghilangkan nilai budaya yang hendak diwariskan.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, konsep baru itu merupakan upaya memperkenalkan budaya kepada generasi muda melalui pendekatan yang lebih dekat dengan perkembangan zaman.

“Ini pertama kalinya kita menyaksikan pertunjukan Gandrung Sewu yang berbeda dari biasanya. Di mana pertunjukan tradisional berpadu indah dengan teknologi. Ini bukti tradisi tidak harus berhenti dalam bentuk yang diwariskan, namun dapat hadir dalam bentuk baru yang memikat bagi generasi muda. Karena budaya yang hidup adalah budaya yang dirawat, dicintai, dan diberi ruang untuk berkembang,” ujar Ipuk saat membuka pergelaran, Sabtu 24 Oktober Malam.

Pernyataan itu menempatkan pelestarian budaya dalam konteks yang lebih luas. Tradisi tidak selalu harus hadir dengan bentuk penyajian yang sama. Ia dapat berkembang mengikuti zaman, selama masyarakat tetap mengenali akar dan nilai yang membentuknya.

Bagi sebuah pertunjukan yang melibatkan begitu banyak orang, keberlangsungannya juga bergantung pada kerja bersama. Penari, pelatih, seniman, budayawan, penyelenggara, dan masyarakat menjadi bagian dari upaya menjaga agar Gandrung Sewu terus terselenggara.

Ipuk menyampaikan apresiasi kepada InJourney yang mendukung penyelenggaraan tahun ini, termasuk kepada para penari, pelatih, dan seluruh pihak yang terlibat.

Direktur Utama InJourney Maya Watono menilai kekayaan budaya Banyuwangi memiliki potensi untuk diperkenalkan kepada masyarakat yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.

“Lewat kolaborasi di event ini, kami ingin menarasikan Banyuwangi ini di mata Indonesia dan dunia. Saya rasa pertunjukan malam ini luar biasa,” kata Maya.

Sementara itu, Staf Ahli Menteri Bidang Transformasi Digital dan Inovasi Pariwisata Kementerian Pariwisata Masruroh mengatakan, kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, InJourney, dan komunitas pariwisata turut mendukung keberlanjutan pergelaran tersebut.

Menurut Masruroh, Gandrung Sewu kembali masuk dalam kalender Karisma Event Nusantara untuk kelima kalinya. Konsistensi penyelenggaraan selama bertahun-tahun menjadi salah satu tantangan dalam mempertahankan sebuah pergelaran budaya.

Malam itu, Gandrung Sewu ditutup dengan penampilan Kunto Aji dan Project Pop. Sebelum pergelaran dimulai, Kunto Aji membawakan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Rangkaian acara berakhir, tetapi upaya menjaga tradisi tidak selesai bersama padamnya lampu panggung. Keberlanjutan Gandrung bergantung pada bagaimana kesenian itu terus dipelajari, dipraktikkan, dan dikenalkan kepada generasi berikutnya.

Gandrung Sewu 2026 memperlihatkan satu kemungkinan warisan budaya dapat tampil dalam kemasan yang berubah tanpa harus kehilangan identitasnya. Cahaya, teknologi, dan panggung malam menjadi unsur baru, sedangkan gerak tari dan nilai tradisi tetap menjadi pusat pertunjukan. (*)

Tags : #GandrungSewu2026 #PemkabBanyuwangi #PantaiMarinoBoom #BeritaGandrungSewu2026 #enewsindoBanyuwangi

Ikuti Kami :

Komentar