Detail Berita
Di Tengah Kemudahan Keuangan Digital, LPS Ingatkan Mahasiswa Tak Terjebak Judi Online
Pewarta : Muis
15 Oktober 2026
18:58
Farid Azhar Nasution Ketua Dewan Komisioner LPS (foto : Muis)
SURABAYA, enewsindo.co.id - Satu sentuhan di layar ponsel kini cukup untuk membeli barang, mengakses layanan keuangan, hingga menempatkan uang pada berbagai instrumen investasi.
Namun, di balik kemudahan itu, ada risiko yang kerap luput dari perhatian, terutama bagi generasi muda yang sedang belajar mengelola keuangan secara mandiri.
Belanja impulsif, pinjaman online ilegal, hingga judi online menjadi sejumlah ancaman yang dapat menggerus kondisi keuangan jika tidak disikapi dengan bijak.
Pesan itulah yang disampaikan Wakil Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Farid Azhar Nasution, di hadapan ratusan mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Kamis 15 Oktober 2026.
Dalam kuliah umum tersebut, Farid mengingatkan bahwa kemudahan mengakses layanan keuangan belum tentu membuat seseorang memahami cara mengelola uang dengan benar.
Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 menunjukkan, tingkat inklusi keuangan Indonesia telah mencapai 93,6 persen. Namun, tingkat literasi keuangan masih berada di angka 69,5 persen.
Angka tersebut menggambarkan adanya kesenjangan antara akses terhadap layanan keuangan dan pemahaman masyarakat dalam memanfaatkannya.
“Sebagian besar masyarakat sudah memiliki smartphone dan mudah mengakses produk keuangan digital. Namun, kemudahan tersebut juga diikuti berbagai risiko, seperti pola belanja impulsif, pinjaman online ilegal, dan judi online,” ujar Farid.

Bagi generasi muda, dunia digital menawarkan banyak kemudahan sekaligus godaan. Keinginan mengikuti tren, membeli barang yang sedang populer, atau mencoba memperoleh keuntungan secara instan dapat memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan finansial.
Farid secara khusus menyoroti maraknya judi online, termasuk taruhan olahraga atau sport betting, yang dinilai rentan menyasar generasi muda, terutama Generasi Z.
Ia mengutip data Bloomberg yang menyebutkan bahwa 52 persen responden pernah mengalihkan dana investasinya ke taruhan olahraga. Sementara itu, 26 persen responden menganggap aktivitas tersebut sebagai bagian dari strategi keuangan jangka panjang.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa tidak semua aktivitas yang melibatkan uang dapat dipandang sebagai investasi. Tanpa pemahaman yang memadai, keinginan memperoleh keuntungan justru dapat berujung pada kerugian.
Karena itu, menurut Farid, literasi keuangan perlu diperkuat sejak dini. Generasi muda tidak cukup hanya mengetahui cara menggunakan layanan keuangan digital, tetapi juga harus mampu mengenali risiko, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta mempertimbangkan konsekuensi dari setiap keputusan.
Di tengah berbagai godaan konsumsi, Farid mengajak mahasiswa membangun kebiasaan menabung sebagai langkah sederhana untuk menjaga kesehatan keuangan.
Baginya, menabung bukan sekadar menyimpan uang ketika ada kelebihan penghasilan. Kebiasaan tersebut perlu dibangun melalui disiplin dan konsistensi, bahkan ketika jumlah uang yang dapat disisihkan masih terbatas.
Prinsip yang ia tekankan sederhana: “sisihkan, bukan sisakan.”
Artinya, sebagian uang perlu dialokasikan untuk tabungan sejak awal, bukan menunggu seluruh kebutuhan dan keinginan terpenuhi.
Kebiasaan ini dapat membantu seseorang mempersiapkan dana darurat sekaligus merencanakan kebutuhan masa depan. Dengan memiliki simpanan, seseorang juga mempunyai ruang untuk menghadapi kebutuhan mendadak tanpa harus terburu-buru mencari pinjaman.
Selain mengatur pengeluaran dan menabung secara rutin, Farid mengingatkan mahasiswa agar membiasakan diri berbelanja sesuai kebutuhan.
Ia juga memperkenalkan pentingnya membangun tabungan yang tidak selalu berbentuk uang, melainkan investasi pada diri sendiri melalui penguatan karakter, peningkatan ilmu pengetahuan, dan perluasan relasi positif.
“Tabungan tidak hanya berupa uang, tetapi juga bekal diri yang sangat berharga untuk masa depan,” pungkasnya.
Pesan tersebut menempatkan pengelolaan keuangan bukan semata-mata sebagai persoalan menghitung pemasukan dan pengeluaran. Lebih dari itu, kebiasaan mengelola uang juga berkaitan dengan kedisiplinan, kemampuan menentukan prioritas, dan kesiapan menghadapi masa depan.
Upaya memperkuat pemahaman keuangan generasi muda juga diwujudkan melalui kerja sama antara LPS dan UNESA.
Pada kesempatan yang sama, kedua institusi menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) tentang Pengembangan Kompetensi, Penelitian, dan Sosialisasi terkait Fungsi, Tugas, dan Wewenang LPS.
Kerja sama tersebut mencakup pengembangan kompetensi mahasiswa dan dosen, serta sosialisasi mengenai fungsi, tugas, dan wewenang LPS.
Melalui kolaborasi ini, LPS dan UNESA berharap mahasiswa tidak hanya memahami pentingnya mengelola keuangan secara bijak, tetapi juga mengenal peran LPS dalam sistem keuangan Indonesia.
Pada akhirnya, kecakapan finansial tidak selalu dimulai dari besarnya penghasilan. Kebiasaan sederhana, seperti menyisihkan uang secara rutin, mengendalikan keinginan belanja, dan berhati-hati terhadap tawaran keuntungan instan, dapat menjadi bekal penting bagi generasi muda.
Di tengah dunia digital yang serba cepat, kemampuan menjaga uang tetap pada tujuan yang tepat menjadi salah satu langkah untuk membangun masa depan yang lebih aman dan terencana. (*)
Komentar
Berita Terbaru
Hukum & Politik
Menjaga Kepastian Hukum 189 Desa, DPRD Banyuwangi Dalami Raperda Penetapan Desa
15 Oktober 2026
19:45
Hukum & Politik
Di Tengah Kemudahan Keuangan Digital, LPS Ingatkan Mahasiswa Tak Terjebak Judi Online
15 Oktober 2026
18:58
Hukum & Politik
Urus Adminduk Tak Lagi Harus ke Kantor Kabupaten, Pemkab Jember Perluas Layanan Kecamatan
15 Oktober 2026
18:19
Ekonomi & Bisnis
Hari Santri Nasional 2026 di Jember, Bazar Pesantren dan UMKM Jadi Ruang Tumbuh Ekonomi Rakyat
15 Oktober 2026
17:20
Hukum & Politik
Hidup Sendiri dan Tak Bisa Berjalan, Bu Tini Bertahan Berkat Kepedulian Tetangga
15 Oktober 2026
16:27