Detail Berita
Sampah Disulap Jadi Energi, Inovasi Perangkat Desa di Kencong
Pewarta : Yudi
04 Oktober 2026
17:24
Antok bersama rekan rekannya sang pengolah sampah menjadi Energi (foto : Yudi)
JEMBER, enewsindo.co.id - Tumpukan sampah kerap dianggap sebagai persoalan yang sulit diselesaikan. Ketika limbah menumpuk, bau tidak sedap muncul, lingkungan tercemar, dan warga kembali dihadapkan pada persoalan klasik yakni ke mana sampah harus dibuang?
Namun, bagi Antok, persoalan tersebut justru memunculkan tantangan yang menarik untuk ditaklukkan. Di sela kesibukannya sebagai kepala dusun di Desa Kraton, Kecamatan Kencong, Antok memilih tidak sekadar mengeluhkan persoalan sampah. Dia mencoba mencari jalan keluar dengan mengolah limbah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.
Berbekal rasa ingin tahu dan kepedulian terhadap lingkungan, Antok secara mandiri mempelajari berbagai metode pengolahan sampah. Dari percobaan sederhana hingga kegagalan berulang kali, dia terus mencari formula yang tepat.
Hasilnya, berbagai jenis sampah kini diolah menjadi bahan bakar alternatif yang disebut memiliki karakteristik setara dengan solar dan premium.
Perjalanan tersebut tentu tidak berlangsung dalam waktu singkat. Antok harus mengorbankan waktu, tenaga, bahkan biaya pribadi. Aktivitas riset dilakukan di sela tugasnya sebagai perangkat desa.
“Saya sebenarnya hanya ingin mencari cara agar sampah tidak terus menumpuk dan mencemari lingkungan. Awalnya banyak yang meragukan, bahkan saya sendiri beberapa kali gagal. Tetapi saya berpikir, kalau tidak dicoba, masalah sampah ini tidak akan pernah selesai,” tutur Antok.
Bagi ayah keluarga itu, kegagalan bukan alasan untuk berhenti. Justru dari kegagalan tersebut, dia terus memperbaiki proses pengolahan yang dilakukan.
Antok melihat sampah dari sudut pandang berbeda. Benda yang selama ini dianggap tidak berguna, menurut dia, masih memiliki potensi apabila dikelola dengan benar.
“Yang membuat saya senang bukan karena hasil bahan bakarnya saja, tetapi ketika melihat sampah yang biasanya berserakan dan menjadi masalah, sekarang bisa dimanfaatkan. Lingkungan menjadi lebih bersih dan masyarakat mulai sadar bahwa sampah juga punya nilai,” ujarnya.
Upaya Antok kemudian menarik perhatian sejumlah pihak. Salah satunya Camat Kencong Ronny Arvianto yang datang langsung meninjau lokasi pengolahan sampah tersebut pada Rabu (3/6/2026).
Kunjungan itu menjadi bentuk apresiasi terhadap upaya masyarakat desa dalam mencari solusi atas persoalan lingkungan.
Menurut Ronny, inovasi Antok menunjukkan bahwa gagasan untuk menyelesaikan persoalan lingkungan tidak selalu harus datang dari pusat penelitian atau lembaga besar. Kreativitas justru dapat tumbuh dari masyarakat yang bersentuhan langsung dengan persoalan di lingkungannya.
“Pak Antok menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah sederhana. Kepeduliannya terhadap lingkungan patut menjadi contoh bagi masyarakat maupun generasi muda. Kami berharap akan muncul lebih banyak inovator desa yang mampu menghadirkan solusi nyata bagi persoalan di sekitarnya,” ujar Ronny.
Dukungan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam perjalanan inovasi tersebut. Warga mulai memiliki kesadaran untuk memilah dan mengumpulkan sampah sehingga bahan baku untuk pengolahan lebih mudah diperoleh.
Bagi Antok, keterlibatan masyarakat menjadi modal penting. Sebab, persoalan sampah tidak mungkin diselesaikan hanya oleh satu orang.
Kesadaran warga untuk melihat sampah sebagai sesuatu yang masih memiliki nilai menjadi langkah awal untuk membangun pola pengelolaan lingkungan yang lebih baik.
Antok tidak pernah menganggap dirinya sebagai seorang ilmuwan. Ia juga tidak memiliki latar belakang pendidikan tinggi di bidang teknologi.
Namun, keterbatasan itu tidak membuatnya berhenti bereksperimen.
“Saya bukan ilmuwan atau orang yang punya pendidikan tinggi di bidang teknologi. Saya hanya warga desa yang ingin lingkungan menjadi lebih baik. Kalau saya bisa mencoba, saya yakin anak-anak muda juga bisa menciptakan inovasi yang jauh lebih hebat,” katanya.
Dari proses panjang tersebut, terselip harapan yang lebih besar. Antok ingin apa yang dilakukannya tidak berhenti sebagai sebuah eksperimen pribadi.
Dia berharap teknologi pengolahan sampah menjadi energi alternatif dapat terus dikembangkan. Jika dikelola secara berkelanjutan, menurut dia, sampah bukan hanya dapat mengurangi beban lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
“Saya bermimpi suatu saat nanti desa-desa tidak lagi dipusingkan oleh persoalan sampah. Justru dari sampah itulah muncul manfaat, lapangan usaha, dan energi yang bisa membantu masyarakat. Kalau lingkungan bersih dan warga sejahtera, itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagi saya,” ungkapnya.
Kisah Antok menunjukkan bahwa sebuah perubahan tidak selalu harus dimulai dari tempat besar dengan peralatan canggih.
Kadang, perubahan bermula dari kegelisahan sederhana ketika melihat sampah berserakan di sekitar rumah.
Dari Desa Kraton, Kecamatan Kencong, kegelisahan itu kemudian berubah menjadi ikhtiar. Sampah yang selama ini dipandang sebagai masalah dicoba diubah menjadi sumber energi.
Langkah Antok mungkin masih membutuhkan pengembangan dan dukungan lebih luas. Namun, satu hal telah dimulai: membuktikan bahwa desa juga memiliki ruang untuk melahirkan inovasi.
Sebab, ketika kepedulian bertemu dengan kemauan untuk mencoba, sesuatu yang selama ini dianggap sebagai limbah pun dapat membuka jalan menuju harapan baru. (*)
Komentar
Berita Terbaru
Pendidikan & Teknologi
Sampah Disulap Jadi Energi, Inovasi Perangkat Desa di Kencong
4 Oktober 2026
17:24
Hiburan
Jaka Sopan Bondowoso Dibanjiri 50 Ribu Peserta
4 Oktober 2026
13:23
Hukum & Politik
Rumah Produksi Kotak Cerutu di Jember Terbakar, Kerugian Masih Didata
4 Oktober 2026
11:30
Hukum & Politik
HKTI Jember Siapkan Sekolah Lapang untuk Cetak Petani Muda
4 Oktober 2026
08:32
Ekonomi & Bisnis
Deputi Kementerian UMKM Dorong Santri dan Generasi Muda Bondowoso Jadi Wirausahawan
4 Oktober 2026
07:03