Detail Berita
Egrang Jadi Jembatan Keberagaman di Ledokombo - Jember
Pewarta : Evelyne
09 Agustus 2026
06:59
Festival Engrang ke XIV di Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember (foto : Evelyne)
JEMBER, enewsindo.co.id - Bukan sekadar permainan tradisional, di Festival Egrang ke-XIV yang digelar Komunitas Tanoker, Sabtu (8/8/2026) Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember, egrang menjadi jembatan yang mempertemukan anak-anak, komunitas, penyandang disabilitas, lintas etnis, hingga organisasi sosial keagamaan.
Direktur Tanoker Ledokombo, Farha Ciciek, mengatakan keberagaman peserta menjadi kekuatan utama Festival Egrang. Menurut dia, permainan tradisional bisa menjadi ruang perjumpaan yang membuat masyarakat saling mengenal dan menghargai.
“Hari ini 21 penampil yang berwarna terdiri dari sekolah, komunitas, kelompok disabilitas, lintas generasi, lintas etnis, organisasi sosial keagamaan akan berjalan bersama menampilkan hal yang terbaik karya mereka,” ujar Farha.
Farha pun menyebut, bahwa Festival Egrang kini memiliki makna yang lebih luas bagi masyarakat Ledokombo. Di balik permainan yang terlihat sederhana, terselip pesan tentang kepedulian, empati, kegembiraan, dan harapan.
“Bagi Tanoker Ledokombo, festival ini bukan hanya pesta hura-hura, tapi sebuah festival yang punya makna, punya tujuan, festival with mission,” katanya.
Misi ini, kata Farha, berangkat dari keyakinan bahwa setiap orang yang lahir dan tumbuh di Jember berhak mendapatkan kehidupan yang baik. Hak-haknya harus terpenuhi dan setiap orang memiliki kesempatan menikmati kegembiraan.
Festival yang berlangsung di kawasan kaki Gunung Raung itu pun tidak sekadar mengejar kemeriahan. Tanoker ingin menjadikannya bagian dari perjalanan panjang membangun Ledokombo dan Jember sebagai tempat yang layak dihuni dengan penuh kegembiraan.
Semangat tersebut pula yang membuat Festival Egrang terus dirawat hingga memasuki edisi ke-14. Permainan tradisional dijadikan pintu masuk untuk mempertemukan anak-anak, keluarga, komunitas, kelompok disabilitas, dan masyarakat dari berbagai latar belakang.
Tradisi tidak dibiarkan berhenti sebagai cerita masa lalu. Ia dihidupkan kembali melalui tangan generasi hari ini.
Dari Ledokombo, egrang akhirnya membawa pesan sederhana, berbeda bukan alasan untuk berjalan sendiri-sendiri. Sebab, ketika ada ruang untuk bertemu, keberagaman justru bisa menjadi kekuatan untuk membangun harmoni.
Dan di Festival Egrang ke-XIV, masyarakat tidak hanya diajak belajar berjalan di atas dua batang bambu. Mereka juga diajak belajar berjalan bersama di tengah perbedaan. (*)
Komentar
Berita Terbaru
Ekonomi & Bisnis
Pelajari Teknologi Padi Biofortifikasi Banyuwangi, Selangor Malaysia Jajaki Kerja Sama Pertanian
7 November 2026
19:15
Hukum & Politik
Damkarmat Banyuwangi Padamkan Kebakaran Rumah Lansia di Muncar, Kerugian Capai Rp 150 Juta
7 November 2026
18:58
Ekonomi & Bisnis
Perajin Batik Banyuwangi Didorong Go Digital, OJK Perkuat Akses Keuangan UMKM
7 November 2026
18:22
Pendidikan & Teknologi
Wabup Cup 2026 Banyuwangi Lahirkan Juara Futsal Pelajar
7 November 2026
18:00
Hukum & Politik
Sengketa 5 Hektare Sawah di Jember Memanas, Kini Kedua Pihak Sepakat Status Quo
7 November 2026
15:27