Detail Berita
Larung Kepala Kerbau Jadi Puncak Pahargyan Longkangan ke-177 di Munjungan Trenggalek
Pewarta : Evelyne
28 April 2026
15:15
Pahargyan Longkangan ke-177 di Munjungan Trenggalek Larung Kepala Kerbau ke Laut (foto : Istimewa)
TRENGGALEK, enewsindo.co.id - Ritual Pahargyan Adat Longkangan ke-177 berlangsung khidmat di Kecamatan Munjungan, Kabupaten Trenggalek, Selasa (28/4/2026). Tradisi tahunan yang digelar setiap Bulan Selo dalam penanggalan Jawa ini tidak hanya menjadi agenda budaya, tetapi juga ruang kolektif masyarakat untuk meneguhkan nilai spiritual, sosial, dan ekologis.
Sejak pagi, ratusan warga memadati area sekitar Kantor Kecamatan Munjungan hingga sepanjang rute menuju Pantai Blado. Mereka menyaksikan prosesi kirab dua gunungan yang diarak dengan iringan kesenian tradisional dan doa-doa. Gunungan tersebut berisi tumpeng nasi kuning berukuran besar serta kepala kerbau yang sebelumnya telah disembelih melalui ritual khusus.
Kirab berlangsung tertib dengan nuansa sakral. Warga mengenakan pakaian adat Jawa, sementara sejumlah tokoh masyarakat berjalan di barisan depan sebagai simbol penghormatan terhadap leluhur. Setibanya di Pantai Blado, kedua gunungan itu kemudian dilarung ke laut, menandai puncak prosesi adat Longkangan.
Ketua Panitia Pahargyan Adat Longkangan, Agus Setiawan, mengatakan tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun selama 177 tahun dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Munjungan.
“Ini bentuk rasa syukur masyarakat, baik nelayan, petani, maupun seluruh elemen, kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas hasil bumi dan laut yang melimpah. Salah satunya diwujudkan dengan menyembelih kerbau dan melarung kepalanya ke laut,” ujarnya.
Menurut Agus, kepala kerbau yang dilarung memiliki makna simbolik sebagai persembahan sekaligus harapan agar masyarakat dijauhkan dari marabahaya, khususnya bagi nelayan yang menggantungkan hidup dari laut. Sementara tumpeng dan hasil bumi mencerminkan kemakmuran serta keseimbangan antara manusia dan alam.
Ia menambahkan, filosofi Longkangan tidak berhenti pada ritual seremonial semata, melainkan mengandung pesan mendalam tentang pentingnya menjaga harmoni dengan lingkungan.
“Dalam tradisi ini ada makna bagaimana kita merawat sumber mata air seperti Patirtan Sumber Ireng, menjaga kelestarian alam, serta tidak mengeksploitasi laut secara berlebihan,” katanya.
Selain kepala kerbau, berbagai sesajen turut dilarung, mulai dari tumpeng nasi kuning yang dikelilingi sayur-mayur hingga aneka hasil bumi lainnya. Seluruhnya menjadi simbol rasa syukur sekaligus doa agar kesejahteraan masyarakat terus terjaga.
Rangkaian acara tidak berhenti di siang hari. Pada malam harinya, kegiatan dilanjutkan dengan puncak acara berupa onang-onang bedil muni, tradisi khas yang sarat nuansa spiritual dan kebersamaan. Masyarakat berkumpul dalam suasana kekeluargaan melalui perjamuan bersama, sebagai simbol gotong royong dan saling menghormati.
Asisten Administrasi Umum Sekretaris Daerah Kabupaten Trenggalek, Edif Hayunan, yang hadir dalam kegiatan tersebut, mengapresiasi pelaksanaan tradisi Longkangan sebagai warisan budaya yang tetap terjaga di tengah arus modernisasi.
Ia menekankan bahwa pesan utama dari tradisi ini sangat relevan dengan kondisi saat ini, terutama dalam menjaga keseimbangan lingkungan.
“Kalau kita tidak menjaga alam dan justru merusaknya, apa yang akan kita wariskan ke anak cucu nanti. Tradisi ini mengingatkan kita bahwa manusia hidup berdampingan dengan alam, bukan menguasainya,” ujarnya.
Pahargyan Adat Longkangan sendiri telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Kebudayaan. Penetapan tersebut dilakukan pada Februari 2026 di Malang. Pemerintah daerah menilai pengakuan ini menjadi langkah penting dalam upaya pelestarian sekaligus promosi budaya lokal ke tingkat nasional.
Piagam penghargaan WBTB dijadwalkan akan diserahkan langsung oleh Bupati Trenggalek kepada Camat Munjungan dalam waktu dekat sebagai bentuk apresiasi terhadap masyarakat yang konsisten menjaga tradisi.
Antusiasme masyarakat terlihat tinggi sepanjang rangkaian acara. Warga tidak hanya datang dari Munjungan, tetapi juga dari berbagai daerah sekitar. Mereka berbondong-bondong menyaksikan kirab hingga prosesi pelarungan di Pantai Blado.
Selain menjadi ruang spiritual, tradisi ini juga berpotensi mendorong sektor pariwisata lokal. Kehadiran pengunjung memberikan dampak ekonomi bagi pelaku usaha kecil, mulai dari pedagang makanan hingga penyedia jasa transportasi.
Ke depan, Pahargyan Adat Longkangan diharapkan tidak hanya terus lestari sebagai identitas budaya, tetapi juga mampu menjadi penggerak kesejahteraan masyarakat tanpa menghilangkan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. (*)
Komentar
Berita Terbaru
Pendidikan & Teknologi
Wali Kota Kediri Nilai SPKLU Uniska Berdampak pada Pendidikan dan Ekonomi
28 April 2026
16:22
Ekonomi & Bisnis
Larung Kepala Kerbau Jadi Puncak Pahargyan Longkangan ke-177 di Munjungan Trenggalek
28 April 2026
15:15
Hukum & Politik
Tragis, Bocah 13 Tahun Asal Jember Jadi Korban Asusila Pemuda Lumajang
28 April 2026
13:42
Hukum & Politik
Pembayaran Tak Tercatat, Piutang PBB Bondowoso Tembus Rp36 Miliar, 27 April 2026
28 April 2026
13:37
Hukum & Politik
Satu Peti Jeruk Dicuri, Pelaku Ditangkap Warga di Purwoharjo
28 April 2026
13:30