Detail Berita
Nyepi dan Idul Fitri Berdekatan, Patrang Rawat Toleransi di Pura Tertua Jember
Pewarta : Evelyne
16 Maret 2026
20:02
Pemangku Pure Agung Amerta Asri bersama Lurah Patrang Hariyono (Evelyne)
JEMBER, enewsindo.co.id - Suasana tenang menyelimuti halaman Pura Agung Amerta Asri di Kelurahan Patrang, Kabupaten Jember, Senin (16/3/2026). Pura yang dikenal sebagai salah satu pura tertua di Jember itu menjadi saksi bagaimana masyarakat setempat merawat tradisi toleransi di tengah keberagaman.
Momentum tersebut terasa semakin bermakna karena tahun ini perayaan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri berlangsung hampir bersamaan.
Lurah Patrang, Hariyono, menyempatkan diri berkunjung ke pura tersebut untuk bersilaturahmi dengan pemangku pura sekaligus menyampaikan pesan penting tentang pentingnya menjaga harmoni antar umat beragama.
Menurutnya, kedekatan waktu antara dua hari besar keagamaan tersebut menjadi pengingat bahwa masyarakat harus terus menjaga kerukunan yang telah lama terbangun.
“Harapan kami, masyarakat tetap menjaga kerukunan dan kedamaian. Momentum ini justru menjadi kesempatan untuk memperkuat rasa kebersamaan antarumat beragama,” ujar Hariyono.
Ia menilai kehidupan masyarakat di wilayah Patrang selama ini menunjukkan contoh nyata toleransi yang hidup berdampingan secara alami. Hal itu terlihat dari keberadaan pura yang berdampingan dengan masjid di kawasan RW 08 RT 04 Kelurahan Patrang.
Bagi warga setempat, kedekatan dua rumah ibadah tersebut bukan sekadar letak bangunan, melainkan simbol kehidupan masyarakat yang saling menghormati dan menjaga keharmonisan.
Hariyono menambahkan sikap saling menghargai antarumat beragama menjadi kunci agar seluruh rangkaian perayaan keagamaan dapat berlangsung dengan aman, tertib, dan penuh kebersamaan.
Sementara itu, Pemangku Pura Agung Amerta Asri, Ide Bagus Rai Jelantik, mengatakan pertemuan waktu antara Nyepi dan Idul Fitri tahun ini merupakan momen yang jarang terjadi.
Menurutnya, umat Hindu akan merayakan Nyepi pada 19 Maret, sedangkan umat Muslim diperkirakan merayakan Idul Fitri pada 20 Maret.
“Momen seperti ini jarang terjadi. Biasanya perlu waktu beberapa tahun lagi untuk bisa bertepatan seperti sekarang,” katanya.
Meski demikian, bagi masyarakat di lingkungan RT 04 RW 18 Krajan Patrang, kebersamaan lintas agama bukanlah hal baru. Tradisi silaturahmi antarumat beragama telah menjadi bagian dari kehidupan sosial warga sejak lama.
Setelah perayaan Nyepi, umat Hindu biasanya mengundang warga Muslim untuk bersilaturahmi di Balai Paseban yang berada di lingkungan pura. Pertemuan tersebut menjadi ruang bagi warga untuk saling bertukar cerita sekaligus mempererat hubungan sosial.
Sebaliknya, beberapa hari setelah Idul Fitri, umat Hindu juga diundang menghadiri kegiatan halal bihalal yang digelar warga Muslim setempat.
Tradisi saling mengunjungi tersebut terus dijaga sebagai bagian dari budaya masyarakat Patrang dalam merawat persaudaraan di tengah keberagaman.
“Tradisi ini sudah berlangsung lama dan menjadi cara kami menjaga keharmonisan antar umat beragama,” ujar Rai Jelantik.
Bagi warga Patrang, pertemuan dua hari besar keagamaan itu tidak sekadar peristiwa kalender. Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi pengingat bahwa kerukunan dapat tumbuh dari kebiasaan sederhana yakni saling menghormati, saling mengunjungi, dan menjaga persaudaraan di tengah perbedaan.
Komentar
Berita Terbaru
Hukum & Politik
RRI Fest 2026 Bikin Jember Bergoyang, Kearifan Lokal Naik Panggung
14 September 2026
17:30
Hukum & Politik
Serapan APBD Jember Tersendat, Wabup Djoko Singgung Pejabat Salah Desain Anggaran
14 September 2026
14:31
Hukum & Politik
Wujudkan Generasi Berkarakter Pancasila, Nias Selatan Perkuat Pendidikan Wawasan Kebangsaan
14 September 2026
13:51
Hukum & Politik
Tunjangan Guru Kristen Bukan Ditahan, Begini Penjelasan Kemenag Nias Selatan
14 September 2026
13:26
Advertorial
Ribuan Tamu Memadati Resepsi Oscar–Jane, Sejumlah Tokoh Nias Selatan Hadir
14 September 2026
11:16