Detail Berita

Hukum & Politik

Balap Liar di Banyuwangi Mengganggu Ketenteraman Warga

Pewarta : Imam

12 Maret 2026

20:49

BalapLiarBanyuwangi, KeamananJalan, ResponsAparatLambat, Ramadan2026, KeresahanWarga, KeselamatanPublik, enewsindo (imam)

BANYUWANGI, enewsindo.co.id - Ketenteraman warga Banyuwangi kembali terusik oleh aksi balap liar dan balap lari yang terjadi pada dini hari. Memasuki pertengahan bulan Ramadan, ketika sebagian besar masyarakat tengah beristirahat atau menunaikan ibadah malam, suara motor dan lari-lari pemuda di jalan protokol semakin menimbulkan keresahan.

Warga Lingkungan Karang Agung, Kelurahan Singotrunan, Kecamatan Banyuwangi misalnya, mereka menyaksikan puluhan pemuda melakukan balap liar di Jalan Basuki Rahmat, tepatnya di sekitar Klinik Parahita. Motor-motor yang dipacu kencang bahkan sempat diparkir di gang-gang permukiman, memaksa warga mengambil langkah sendiri untuk membubarkan pelaku.

"Kejadian balap liar ini sudah beberapa kali kejadian. Tadi malam kami coba hubungi 110, susah sekali tersambung. Setelah tersambung pun tidak ada tindakan di lokasi,” ujar Ari Bastian, Ketua RT 02/RW 03 Karang Agung, menyampaikan frustrasinya terhadap lambatnya respons aparat, Kamis dini hari (12/3/2026).

Ia menambahkan, warga juga sempat mencoba menyampaikan laporan melalui pesan WhatsApp kepada Kapolresta Banyuwangi, namun respons dinilai minim. Fenomena ini menunjukkan adanya celah dalam sistem pengawasan dan penegakan hukum di tingkat lokal.

Warga, yang seharusnya menjadi mitra aparat dalam menjaga ketertiban, justru dipaksa turun tangan sendiri, mencerminkan lemahnya koordinasi dan kepercayaan masyarakat terhadap aparat saat ini. Ari membandingkan kondisi sekarang dengan masa kepemimpinan Kapolresta sebelumnya yang memiliki program “Wadul Kapolresta”, di mana laporan warga lebih cepat ditanggapi.

Selain mengganggu ketertiban, balap liar di jalan utama berpotensi memicu kecelakaan lalu lintas yang fatal. Menurut pengamat sosial, fenomena ini bukan hanya soal pelanggaran hukum, tetapi juga refleksi dinamika pemuda yang mencari identitas dan hiburan di tengah keterbatasan ruang aktivitas.

“Balap liar sering muncul sebagai ekspresi kebosanan dan keinginan untuk menonjol di komunitas sebaya. Saat respons aparat lemah, risiko terhadap keselamatan diri sendiri dan orang lain meningkat,” kata seorang pakar keamanan jalan.

Warga berharap aparat kepolisian meningkatkan kehadiran di lapangan, khususnya selama Ramadan. Mereka menekankan bahwa ketertiban malam hingga dini hari sama pentingnya dengan siang hari. Kegagalan menegakkan aturan bukan hanya merugikan masyarakat, tetapi juga dapat menimbulkan trauma sosial dan membentuk budaya ketidakpatuhan di kalangan pemuda.

Fenomena balap liar di Banyuwangi menjadi peringatan bagi pemerintah kota dan aparat kepolisian, tanpa koordinasi yang efektif dan kehadiran aparat yang nyata di lapangan, keresahan warga akan terus berulang, sementara keselamatan publik tetap terancam. (*)

Tags : #BalapLiarBanyuwangi #KeamananJalan #ResponsAparatLambat #Ramadan2026 #KeresahanWarga #KeselamatanPublik #enewsindo

Ikuti Kami :

Komentar