Detail Berita

Pendidikan & Teknologi

Haul ke-39 KH Farouq Muhammad Khidmat, Gus Fikri Kenang Tirakat Orang Tua

Pewarta : Eko

12 April 2026

22:41

Ribuan Jamaah hadir di Haul 39 KH Farouq Muhammad Pendiri PP Riyadlus Sholihien (Eko)

JEMBER, enewsindo.co.id - Ribuan jamaah memadati Pondok Pesantren (PP) Riyadlus Sholihien, Minggu (12/4/2026), dalam peringatan haul ke-39 KH Farouq Muhammad dan haul ke-13 Nyai Hj Wahibah Wahib. Kegiatan berlangsung khidmat sekaligus penuh keakraban.

Jamaah yang hadir terdiri atas alumni santri, santri aktif, wali santri, hingga masyarakat umum. Mereka mengikuti rangkaian acara haul yang menjadi tradisi tahunan pesantren tersebut.

Pengasuh PP Riyadlus Sholihien, KH Musodhiq Fikri atau Gus Fikri, dalam tausiyahnya menyampaikan sejumlah kisah tentang perjuangan dan keteladanan para pendiri pesantren. Penyampaian ceramah dikemas santai, namun tetap sarat pesan.

Ia mengungkapkan, banyak alumni PP Riyadlus Sholihien yang berhasil menembus dunia akademik hingga menjadi profesor. “Banyak alumni Riyadlus Sholihien yang sudah menjadi profesor,” ujarnya.

Gus Fikri juga mengenang sosok orang tuanya. Menurut dia, ibundanya dikenal gemar tirakat dengan rutin mengkhatamkan Al-Qur’an setiap pekan serta mendoakan anak-anaknya. “Umi saya itu tirakatnya luar biasa, khatam Al-Qur’an setiap minggu dan selalu mendoakan anak-anaknya,” katanya.

Sementara itu, ayahnya dikenal sebagai sosok yang tekun mengajar. Ia juga menceritakan perjalanan hidup KH Farouq Muhammad yang merupakan saudara kandung KH Yusuf Muhammad (Gus Yus) dan KH Nadir Muhammad.

“Abah Farouq itu pernah bekerja di Jogjakarta, tapi kemudian diminta pulang ke Jember untuk menemani ibunya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Gus Fikri menjelaskan bahwa nama Riyadlus Sholihien merupakan pemberian KH Hamid Pasuruan. Sepeninggal KH Farouq Muhammad, kepemimpinan pesantren dilanjutkan KH Hamid Hasbulah yang kini juga mengasuh PP Al Azhar di Muktisari, Jember.

Ia menegaskan, sanad keilmuan PP Riyadlus Sholihien tersambung hingga Rasulullah SAW melalui rantai ulama. “Sanadnya itu nyambung, dari kami ke KH Farouq Muhammad, ke KH Hamid Pasuruan, ke KH Hasyim Asy’ari, terus sampai ke Rasulullah SAW,” jelasnya.

Di akhir ceramahnya, Gus Fikri turut menyampaikan doa terkait kondisi umat Islam di dunia. “Semoga Iran menang melawan AS dan Israel,” ucapnya.

Sementara itu, Lora Ismail Al Kholili dari Bangkalan, Madura, dalam tausiyahnya menekankan pentingnya adab santri kepada guru dan kiai. Menurut dia, sikap hormat merupakan bagian dari ajaran pesantren.

“Guru itu wajib kita hormati,” tegasnya.

Ia menjelaskan, sikap seperti menunduk atau ngelesot saat menghadap kiai bukanlah bentuk feodalisme, melainkan adab. “Itu bukan feodalisme, tapi bentuk adab santri kepada guru,” imbuhnya.

Selain itu, ia juga mengajak jamaah untuk senantiasa mengirimkan doa kepada orang tua dan guru, baik yang masih hidup maupun telah wafat. “Minimal kita kirim Al-Fatihah untuk orang tua dan guru-guru kita,” katanya.

Usai tausiyah, acara dilanjutkan dengan pembacaan Surah Yasin dan tahlil bersama. Kegiatan kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin KH Idris.

Dalam doanya, KH Idris memohon keselamatan bagi umat Islam di seluruh dunia. Ia juga menyampaikan keprihatinan atas konflik global yang terjadi. “Semoga umat Islam diberi keselamatan dan kemenangan,” ujarnya. (*)


Tags : #HaulRiyadlusSholihien GusFikri #SantriBersatu #TradisiPesantren JemberReligi DoaBersama #enewsindo

Ikuti Kami :

Komentar