Detail Berita
Di Jalan Raya Kencong-Jombang Lubang Bertahan, Perbaikan Seolah Jadi Rutinitas Administratif
Pewarta : Evelyne
30 Januari 2026
16:30
Keterangan foto : Warga menandai lubang jalan dengan cat pilok di Jalan Raya Kencong - Jombang, Kabupaten Jember, Jumat 30 Januari 2026. Aksi simpatik ini dilakukan sebagai peringatan bagi pengendara (Evelyne)
JEMBER, enewsindo.co.id - Jalan Raya Wonorejo Kencong hingga Keting, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jember seakan tak lagi berfungsi sebagai infrastruktur penghubung, tetapi menjelma menjadi ruang berisiko, tempat kecelakaan terjadi, sementara perbaikan dari pemerintah seolah hanya menjadi rutinitas administratif.
Lubang-lubang menganga hampir di setiap segmen jalan Provinsi ini dibiarkan terbuka tanpa penanda. Di ruas ini, jatuh dari sepeda motor Kecelakaan bukan lagi peristiwa luar biasa. Ia telah menjadi bagian dari keseharian. Kondisi tersebut mendorong warga menggelar aksi simpatik pada Jumat (30/1/2026).
Dengan cat pilok, warga menandai lubang-lubang tersebut sebagai tanda dan bentuk peringatan darurat yang lahir dari ketiadaan respons memadai dari negara terhadap ancaman keselamatan publik,“Yang jatuh itu bukan satu dua orang. Hampir tiap hari ada,” ujar Sugiarto, warga Dusun Kamaran, Desa Kencong.
Kerusakan jalan ini bukan masalah baru. Namun Sugiarto menyebut kondisi itu telah berlangsung bertahun-tahun. Namun, pola penanganan tak pernah berubah yakni tambal sulam. Perbaikan dilakukan cepat, dangkal, dan berumur pendek.
"Beberapa hari setelah diperbaiki, lubang kembali muncul, sering kali di titik yang sama,"ucapnya.
Sementara itu, Roni Iswahyudi, Koordinator lapangan aksi warga Kencong yang mengatasnamakan "Warga Peduli Pengendara", menilai pendekatan tersebut mencerminkan kegagalan perencanaan.
“Ini jalan provinsi. Tapi penanganannya seperti jalan kampung. Hari ini ditambal, minggu depan rusak lagi,” ujarnya.
Ruas ini kata Roni, merupakan jalur vital yang menghubungkan pusat pendidikan, aktivitas ekonomi, serta mobilitas warga lintas kecamatan dan Kabupaten. Namun, vitalnya fungsi jalan tak berbanding lurus dengan kualitas penanganannya. Di lapangan, warga dipaksa beradaptasi dengan risiko.
"Mereka melaju pelan, berkelok menghindari lubang, atau memilih menepi saat hujan deras. Anak-anak sekolah, pekerja, hingga pedagang kecil menjadi kelompok paling rentan," ungkap Roni.
Aksi menandai lubang dengan cat pilok bukan sekadar protes visual. Ia menjadi simbol keterbatasan warga dalam mengakses perlindungan keselamatan. Ketika fungsi negara absen, warga mengambil alih peran peringatan bahaya meski dengan cara yang seadanya.
“Kami tidak minta muluk-muluk. Kami hanya minta dikerjakan dengan benar,” kata Roni. Bagi warga, perbaikan menyeluruh jauh lebih mendesak ketimbang tambalan sementara yang terus berulang.
Roni menyebut kondisi Jalan Raya Kencong-Jombang menunjukkan bagaimana kerusakan infrastruktur publik dibiarkan berlarut tanpa evaluasi menyeluruh. Jalan rusak tak lagi sekadar soal kenyamanan, tetapi telah menjelma menjadi persoalan keselamatan publik.
"Selama tambal sulam tetap menjadi jawaban, lubang-lubang itu akan terus ada dan kecelakaan akan terus dianggap sebagai risiko yang harus diterima pengguna jalan." Tandasnya.
Komentar
Berita Terbaru
Hukum & Politik
Imigrasi Seragamkan 254 Titik Layanan dengan Nama Beranda Imigrasi
28 Oktober 2026
22:08
Pendidikan & Teknologi
SMPN 3 Jember Gaungkan Semangat Persatuan di Hari Sumpah Pemuda
28 Oktober 2026
20:38
Pendidikan & Teknologi
Daniel dan Alzena Terpilih Jadi Ketua-Wakil Ketua OSIS SMPN 3 Jember, Debat Jadi Ujian
28 Oktober 2026
20:22
Hukum & Politik
Camat Sumbersari Deni, 5.000 Paket Sembako di Umbulsari Jadi Contoh Kendalikan Inflasi
28 Oktober 2026
19:15
Hukum & Politik
Baznas Bondowoso Salurkan Bantuan Rp4,5 Juta kepada Tiga Warga Terdampak Musibah
28 Oktober 2026
18:26