Detail Berita

Hukum & Politik

Di Pesantren Adz Dzikra, Budaya dan Spiritualitas Bertemu Menjaga Harmoni

Pewarta : Hakim Said

18 Januari 2026

08:22

Keterangan foto : Foto bersama Irjen Ibnu Suhendra, Kapolresta Banyuwangi Dr. Rofiq Ripto Himawan, Achmad Wahyudi, Ketua RK Hakim Said, dan puluhan tamu undangan lainnya, 17 Januari 2026 (Hakim Said)

BANYUWANGI, enwsindo.co.id - Pondok Pesantren Adz Dzikra Banyuwangi mendadak menjadi titik temu beragam kepentingan sosial, budaya, dan kebangsaan, Sabtu malam (17/1/2026). Melalui kegiatan bertajuk “Campur Sari Campur Ngaji Kanggo Nelesi Ati”, pesantren ini membuka ruang perjumpaan lintas agama, lintas generasi, hingga lintas institusi, dari pejabat negara sampai warga biasa.

Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol Dr. Rofiq Ripto Himawan, Wakil Bupati Banyuwangi Ir. H. Mujiono, serta Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI Irjen Pol Ibnu Suhendra, putra daerah Glagah Rogojampi hadir dan duduk sejajar dengan para ulama, aktivis, pemuda, dan tokoh masyarakat.

Deretan nama tokoh agama dan organisasi kemasyarakatan turut mengisi barisan hadirin. Ketua PCNU Banyuwangi Gus Achmad Turmudzi, Wakil Ketua MUI Banyuwangi Gus Sunandi Zubaidi, Ketua FKUB Banyuwangi H. Nur Chozin, hingga pengurus NU tingkat kecamatan tampak menyatu dengan unsur pemerintah daerah, organisasi kepemudaan, mahasiswa, dan komunitas masyarakat sipil.

Di hadapan para undangan, Kapolresta Banyuwangi Rofiq Ripto Himawan menekankan bahwa keamanan tidak bisa semata-mata dikelola lewat instrumen hukum. Menurut dia, pendekatan budaya dan spiritual justru kerap menjadi penyangga ketenangan sosial yang lebih tahan lama.

“Keamanan bukan hanya soal penegakan hukum. Ruang-ruang kebudayaan dan spiritual seperti ini mampu merawat toleransi dan persaudaraan masyarakat,” kata Rofiq.

Pengasuh Pondok Pesantren Adz Dzikra Banyuwangi, KH. Ir. Achmad Wahyudi, menyebut kegiatan tersebut sebagai upaya sadar untuk menghadirkan ruang jeda di tengah meningkatnya ketegangan sosial dan polarisasi di masyarakat.

“Ini ikhtiar nelesi ati, menjernihkan hati. Duduk bersama antara ulama, umara, aparat, pemuda, dan masyarakat adalah modal sosial yang tidak boleh diabaikan,” ujarnya.

Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono menilai, perjumpaan lintas elemen semacam ini menjadi penopang penting bagi ketahanan sosial daerah. Menurut dia, kekuatan Banyuwangi selama ini bertumpu pada kemampuan masyarakatnya menjaga keguyuban di tengah perbedaan.

Acara berlangsung tanpa sekat formalitas. Lantunan selawat, pengajian, dan sajian seni campur sari mengalir bergantian, disambut antusias para hadirin. Di tengah irama budaya dan spiritualitas itu, pesan tentang persatuan dan kebangsaan disampaikan dengan cara yang sederhana, tetapi mengena.

Tags : #Banyuwangi #Pesantren #Toleransi #Kerukunan Umat #Kebangsaan #Keamanan Sosial #Budaya Lokal #Campur Sari #Pengajian #Silaturahmi #BNPT #Polri #Ulama dan Umara

Ikuti Kami :

Komentar