Detail Berita
Insiden Keracunan MBG di Jember Picu Evaluasi Ketat Dapur SPPG Kaliwates 3
Pewarta : Redaksi
22 Mei 2026
14:26
Petugas melakukan sidak di dapur MBG Kaliwates 3 Jember usai insiden dugaan keracunan belasan siswa TK. (Foto: Istimewa)
JEMBER, enewsindo.co.id - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Jember mendapat sorotan tajam setelah belasan siswa taman kanak-kanak di Kecamatan Kaliwates mengalami dugaan keracunan makanan usai menyantap paket MBG pada Rabu, 20 Mei 2026.
Sejumlah anak dilaporkan mengalami mual dan muntah hingga harus mendapatkan penanganan medis di puskesmas dan rumah sakit. Peristiwa ini memicu evaluasi serius terhadap standar kebersihan dan prosedur produksi makanan yang dijalankan oleh dapur penyedia MBG.
Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kaliwates 3, Ahmad Farid Anam, menyampaikan permohonan maaf atas insiden tersebut. Ia menjelaskan bahwa makanan sebelum didistribusikan telah melalui pemeriksaan internal bersama ahli gizi.
Menurutnya, pihak dapur juga masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab utama munculnya gejala keracunan pada para siswa TK tersebut.
Farid mengatakan, dugaan sementara mengarah pada menu ayam suwir bumbu kuning yang dikonsumsi sebagian siswa. Sementara menu lain yang disajikan pada hari itu disebut tidak menimbulkan keluhan.
“Kami dari SPPG sudah semaksimal mungkin untuk mencari dan menginvestigasi terkait ada apa dan penyebab-penyebabnya,” ujar Ahmad Farid Anam
Ia juga menyebut kemungkinan adanya faktor kondisi tubuh anak, namun seluruh kepastian tetap menunggu hasil uji laboratorium dari Labkesda.
Pasca kejadian tersebut, operasional dapur MBG Kaliwates 3 untuk sementara dihentikan. Langkah suspend dilakukan sambil menunggu hasil investigasi dan evaluasi dari pihak terkait.
Diketahui, dapur tersebut setiap harinya melayani sekitar 2.250 penerima manfaat program MBG di wilayah Kecamatan Kaliwates.
Sementara itu, Ketua Satgas MBG Jember sekaligus Penjabat Sekretaris Daerah Jember, Achmad Imam Fauzi, menilai kejadian tersebut merupakan indikasi kuat adanya kelalaian dalam proses produksi makanan. Saat melakukan inspeksi mendadak ke lokasi dapur, ia menemukan sejumlah pelanggaran teknis, termasuk penempatan tabung gas di ruang tertutup yang dinilai berpotensi membahayakan keselamatan kerja.
Fauzi menegaskan bahwa keselamatan anak-anak harus menjadi prioritas utama dibanding target distribusi program MBG. Ia memastikan pemerintah daerah tidak akan ragu memberikan sanksi tegas kepada mitra dapur yang terbukti lalai.
“Keselamatan itu harus diutamakan, bukan target berapa SPPG,” tegasnya. Insiden ini pun menjadi perhatian serius karena Jember sebelumnya disebut sebagai salah satu daerah percontohan nasional dalam pelaksanaan program MBG. (*)
Komentar
Berita Terbaru
Hukum & Politik
Menyiapkan Generasi dari Ruang Kelas, Perhutani Dukung KB Tunas Rimba
6 Oktober 2026
10:32
Advertorial
Dahlan Iskan Ingin Sumbang Rp2 Miliar untuk Pengembangan Ternak Kambing CoWas JP
5 Oktober 2026
22:44
Advertorial
Wonosari Hadirkan Wisata Edukasi, Dari Memetik Pucuk hingga Tea Tasting
5 Oktober 2026
19:43
Hukum & Politik
Data Kemiskinan Jember Disinkronkan dengan BPS
5 Oktober 2026
17:36
Hukum & Politik
Upacara HUT Ke 81 TNI, Satuan Baru Akan Diluncurkan
5 Oktober 2026
17:32