LUMAJANG, enewsindo.co.id - Gunung Semeru yang terletak di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya pada Minggu pagi (6/4/2026) dengan serangkaian erupsi yang disertai awan panas.
Letusan pertama tercatat terjadi pada pukul 02.02 WIB dengan kolom abu mencapai ketinggian sekitar 1.000 meter di atas puncak, atau setara 4.676 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Yadi Yuliandi, dalam laporan tertulisnya menyampaikan bahwa kolom abu yang dihasilkan tampak berwarna kelabu dengan intensitas tebal dan condong ke arah barat.
Aktivitas erupsi tersebut juga terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 22 mm serta durasi sekitar 3 menit 29 detik. Letusan ini turut disertai awan panas guguran yang meluncur sejauh kurang lebih 3,5 kilometer dari puncak.
Aktivitas Semeru tidak berhenti pada satu kali erupsi. Gunung tertinggi di Pulau Jawa itu kembali meletus pada pukul 06.55 WIB dengan tinggi kolom abu sekitar 800 meter di atas puncak atau mencapai 4.476 mdpl.
Kolom abu terpantau berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal yang bergerak ke arah barat daya dan barat. Erupsi ini memiliki amplitudo maksimum yang sama, yakni 22 mm, dengan durasi 134 detik.
Hanya berselang tujuh menit, tepatnya pada pukul 07.02 WIB, Semeru kembali mengalami erupsi dengan kolom abu setinggi sekitar 600 meter di atas puncak. Aktivitas vulkanik berlanjut pada pukul 07.53 WIB dengan tinggi letusan mencapai 800 meter.
Sementara itu, pada pukul 08.50 WIB, erupsi kembali terjadi, namun tinggi kolom abu tidak dapat teramati secara visual karena tertutup kabut tebal di sekitar puncak gunung. Hingga saat ini, status aktivitas Gunung Semeru masih berada pada Level III atau Siaga.
Pihak pengamatan mengeluarkan sejumlah rekomendasi penting bagi masyarakat, terutama terkait pembatasan aktivitas di zona rawan bencana. Warga dilarang melakukan kegiatan apapun di sektor tenggara sepanjang aliran Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer dari puncak sebagai pusat erupsi.
Selain itu, masyarakat juga diminta untuk tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Area tersebut dinilai berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar yang bisa mencapai jarak hingga 17 kilometer dari puncak.
Imbauan ini dikeluarkan guna meminimalisir risiko korban jiwa maupun kerugian material akibat aktivitas vulkanik. Tidak hanya itu, warga dan pengunjung juga diingatkan untuk menjauhi radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru karena berpotensi terjadi lontaran batu pijar.
Potensi bahaya lain yang perlu diwaspadai meliputi awan panas, guguran lava, serta aliran lahar yang dapat mengikuti jalur sungai dan lembah yang berhulu di puncak gunung.
Beberapa aliran sungai yang menjadi perhatian utama antara lain Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. Selain itu, sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan juga berpotensi menjadi jalur aliran lahar, terutama saat terjadi hujan di kawasan puncak.
Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi resmi dari pihak berwenang dan meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan aktivitas Gunung Semeru.