Detail Berita
Ketika Warga Menutup Tambang, Negara Terasa Absen di Desa Ajung Jember
Pewarta : Tamara
26 Februari 2026
22:55
Penutupan Tambang Gumuk di desa Ajung oleh Warga (Istimewa)
JEMBER, enewsindo.co.id - Penutupan paksa aktivitas tambang gumuk di Desa Ajung bukan sekadar luapan emosi warga. Aksi itu menjelma menjadi pernyataan tegas dari ruang hidup yang merasa terancam dan terlalu lama diabaikan.
Spanduk penolakan kini membentang di pintu masuk area tambang. Pesannya lugas, penambangan pasir gunung dinilai memicu banjir, meningkatkan risiko kecelakaan, serta mempercepat kerusakan lingkungan. Warga RW 14 Desa Ajung tak lagi menunggu klarifikasi atau mediasi. Akses menuju lokasi ditutup pagar dan larangan tertulis.
Langkah itu lahir dari akumulasi keresahan. Material pasir yang turun dari gumuk disebut kerap melebar ke jalan utama jalur vital menuju fasilitas kesehatan. Saat hujan, jalan berubah licin, saat kering, debu pekat dan mengganggu jarak pandang. Aliran air bercampur lumpur juga mengarah ke permukiman.
“Airnya masuk ke rumah. Sumur jadi kotor,” kata seorang warga yang meminta namanya tidak dipublikasikan. Bagi warga, sumber persoalan dianggap jelas, gumuk yang dikeruk tanpa kendali.
Ancaman tak hanya datang dari permukaan. Tepat di bawah gumuk yang ditambang, berdiri sebuah gereja yang masih aktif digunakan untuk peribadatan. Kombinasi tebing yang tergerus dan bangunan publik di bawahnya memunculkan kekhawatiran nyata bukan sekadar asumsi.
“Kalau tidak profesional dan tidak berizin, ini berbahaya,” ujar Ahmad, pengendara yang melintas dan menyatakan dukungannya terhadap penutupan tambang.
Kini, aktivitas tambang berhenti total. Alat berat tak lagi terlihat di lokasi. Namun, sunyinya mesin belum menandai akhir persoalan. Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi terkait status perizinan tambang maupun langkah pengawasan dari pemerintah daerah Kabupaten Jember.
Peristiwa di Desa Ajung memperlihatkan pola lama yang berulang. Ketika pengawasan negara longgar, warga dipaksa mengambil peran sebagai wasit sekaligus pagar terakhir bagi ruang hidup mereka sendiri. Tambang memang berhenti, tetapi pertanyaan yang lebih besar justru menganga, siapa yang seharusnya bertindak sebelum konflik mencapai titik ini?
Komentar
Berita Terbaru
Ketika Warga Menutup Tambang, Negara Terasa Absen di Desa Ajung Jember
26 Februari 2026
22:55
Buka Bersama BBKA Jatim, Pengusaha Dibekali Strategi Hadapi Era Coretax
26 Februari 2026
21:18
Usai Jembatan Sukowiryo Terputus, Polres Bondowoso Siapkan Rekayasa Lalu Lintas
26 Februari 2026
18:55
Evaluasi Kinerja di Kediri, Imigrasi Jawa Timur Fokuskan Penguatan Pelayanan dan Pengawasan
26 Februari 2026
18:13
Tak Hanya Bangun Infrastruktur, TMMD ke-127 Kediri Perkuat Desa Gadungan lewat Pembenihan Lele
26 Februari 2026
17:17
Berita Terpopuler