Detail Berita

Pendidikan & Teknologi

Demi Pendidikan, Siswi SD di Lumajang Nyaris Tewas di Sungai

Pewarta : Redaksi

24 Februari 2026

08:10

Anak SD dan ayahnya usai terseret banjir lahar hujan gunung Semeru pada 24 Februari 2026 (Foto: Istimewa)

LUMAJANG, enewsindo.co.id - Perjalanan menuju sekolah nyaris berubah menjadi tragedi. Vita, seorang siswi SDN Jugosari 3, bersama ayahnya dilaporkan hampir kehilangan nyawa setelah terseret derasnya banjir lahar dingin di Daerah Aliran Sungai Regoyo, Desa Jugosari, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Selasa (24/2/2026).


Peristiwa mencekam itu terjadi saat Vita dibonceng ayahnya menuju sekolah. Dari kediaman mereka di Dusun Sumberlangsep, keduanya terpaksa melintasi dasar sungai karena jembatan limpas yang selama ini menjadi akses utama warga sudah terputus akibat terjangan lahar pada tahun lalu.


Diduga kurang mewaspadai perubahan kedalaman air, sang ayah langsung memacu sepeda motor untuk menyeberang. Padahal, arus banjir lahar dingin saat itu cukup deras dan membawa material vulkanik. “Biasanya warga turun dulu dari motor, dicek manual pakai tongkat atau jalan kaki pelan-pelan. Tapi tadi langsung diterobos,” ujar Abdul Rohim, saksi mata di lokasi.


Naas, ban depan motor kehilangan traksi saat menghantam arus. Keduanya terjatuh dan terseret banjir lahar sejauh sekitar lima meter. Teriakan minta tolong Vita memecah kebisingan aliran sungai, membuat warga di sekitar bantaran Sungai Regoyo berhamburan mendekat.


“Anaknya teriak-teriak, warga langsung lompat ke sungai buat narik. Kalau telat sedikit saja, bisa kebawa lebih jauh,” tambah Abdul Rohim.


Evakuasi darurat berhasil menyelamatkan nyawa ayah dan anak tersebut. Namun, Vita mengalami luka di bagian lutut akibat benturan dengan bebatuan sungai. Sepeda motor yang mereka kendarai juga rusak parah, dengan mesin mati total karena terendam air bercampur lumpur lahar.


Akibat kejadian itu, Vita terpaksa tidak mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah. Selain masih merasakan nyeri akibat cedera, seragam sekolah yang dikenakannya basah kuyup dan penuh lumpur. “Anaknya trauma, masih gemetar. Hari ini jelas tidak bisa masuk sekolah,” kata salah seorang warga setempat.


Insiden ini kembali menyoroti rapuhnya akses infrastruktur di wilayah lereng Gunung Semeru. Setiap hari, warga harus mempertaruhkan keselamatan jiwa demi menjalani aktivitas rutin, termasuk mengantar anak-anak mereka menuntut hak dasar atas pendidikan. Tanpa perbaikan jembatan dan akses aman, risiko serupa disebut warga masih akan terus menghantui. 

Tags : ##teknologi ##banjir ##pendidikan ##lumajang ##indonesia ##anaksd

Ikuti Kami :

Komentar